INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Film yang dijadwalkan tayang pada 3 September ini membawa penonton mengikuti perjalanan Fanny sejak kecil hingga beranjak dewasa, menikah, menjadi seorang istri, hingga bersiap menjadi calon ibu. Sosok Fanny ditampilkan sebagai perempuan tangguh yang tidak mudah menyerah pada keadaan.

Salah satu harapan terbesar bagi Fanny dan suaminya, Kondoh-San atau Hajime, adalah memiliki anak. Keduanya bahkan berusaha mengumpulkan uang bersama untuk menjalani program bayi tabung.

Baca juga: Film Horor Urang Bunian Angkat Legenda Misterius Sumatera, Tayang September 2026

Namun, dalam perjalanannya tidaklah berjalan mudah. Fanny harus menghadapi kenyataan ketika suaminya didiagnosis hanya memiliki waktu hidup sekitar enam bulan hingga satu tahun.

Di tengah kondisi tersebut, harapan justru menjadi semakin penting. Kehadiran Kazuki menjadi salah satu simbol harapan dalam cerita. Film ini seolah ingin menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berhenti ketika keadaan mengatakan sebaliknya.

Pesan itu menguat melalui kalimat, “Jangan berhenti sampai kematian menjemput karena harapan selalu ada.”

Bagi Subianti (40), warga Banjarmasin Selatan ini, pesan tersebut terasa kuat setelah menonton film itu. Ia mengaku terbawa emosi hingga menangis selama menyaksikan kisah Fanny dan Kondoh-San.

“Seru banget filmnya, menyentuh banget sampai tadi nangis-nangis di dalam,” katanya.

Subianti mengetahui film tersebut dari seorang teman. Ia kemudian datang menonton bersama teman-temannya. Menurut dia, hampir setiap adegan dalam film memiliki daya tarik emosional. Namun, adegan di rumah sakit menjadi salah satu bagian yang paling membekas baginya.

Fanny, katanya, digambarkan tetap telaten merawat suaminya meski berada dalam situasi sulit. Ia juga melihat keteguhan Fanny untuk tidak menyerah dan tetap percaya bahwa pertolongan akan datang.

“Waktu  itu, kelihatan dia enggak menyerah, yakin kalau Allah akan menolong,” ujarnya.

Melalui perjalanan Fanny, Baby Udon tidak hanya bercerita tentang keluarga dan keinginan memiliki anak. Film ini juga membawa pesan tentang ketekunan: bahwa kerja keras tidak selalu langsung menghadirkan hasil, tetapi perjuangan tetap memiliki arti selama harapan belum ditinggalkan.

Pada akhirnya, Fanny menjadi gambaran tentang seseorang yang terus berjalan meski mengetahui jalan di depannya tidak mudah. Sebab, selama harapan masih ada, menyerah bukan satu-satunya pilihan.

Author