INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Suasana haru dan bahagia menyelimuti Gedung Serba Guna Kampus 2 Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin di Landasan Ulin, Banjarbaru, Sabtu (25/4/2026). Di antara ratusan toga yang terangkat, ada satu kisah yang mencuri perhatian, yakni kisah Huda Maulida.
Dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, Huda melangkah mantap sebagai salah satu wisudawan terbaik. Lulusan Program Studi Tadris Bahasa Inggris ini berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,91, sekaligus menuntaskan studinya hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Namun, bagi Huda, angka bukanlah segalanya. Di balik capaian itu, tersimpan perjalanan panjang penuh disiplin, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus. Ia menyadari, menjadi yang terbaik bukan hanya tentang nilai, tetapi tentang bagaimana bertahan dan terus melangkah di setiap proses.
“Setiap proses pasti ada tantangannya, tapi saya selalu ingat tujuan awal,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.
Skripsi yang ia garap berjudul: “Exploring The Actions Of Pre-Service Teachers Towards Students’ Attitudes In Multi-Cultural Education” menjadi refleksi kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi keberagaman di ruang kelas.
Di momen wisuda yang diikuti 539 lulusan, terdiri dari 232 laki-laki dan 307 perempuan dari jenjang sarjana, magister, dan doktor.
Bagi keluarga, terutama sang ayah H. Berkatullah, keberhasilan ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Di balik toga yang dikenakan Huda hari itu, ada doa dan dukungan keluarga yang menjadi fondasi kuat langkahnya.
Wisuda ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan baru. Huda pun berharap ilmunya dapat bermanfaat dan membawa dampak positif, khususnya dalam dunia pendidikan.
Di tengah gemerlap seremoni, kisah Huda mengingatkan bahwa setiap kelulusan menyimpan cerita. Dan terkadang, cerita sederhana tentang kerja keras dan harapan justru menjadi yang paling menginspirasi.
Huda mengungkapkan, pencapaian tersebut bukanlah target awalnya. Namun, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proses perkuliahan.
“Di awal kuliah sebenarnya tidak terpikir menjadi wisudawan terbaik. Tapi setiap hari saya selalu berusaha melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi dan motivasi internal, bukan sekadar mengejar pengakuan. Selain itu, dukungan penuh dari kedua orang tua menjadi faktor penting dalam perjalanannya.
Ia mengaku sangat bersyukur atas pencapaian ini, sekaligus terharu karena dapat membanggakan orang tua. “Hari ini menjadi bukti bahwa saya bisa memberikan yang terbaik untuk mereka,” pungkasnya.
Ke depan, Huda berencana melanjutkan studi ke jenjang magister di Australia melalui jalur beasiswa. Ia bercita-cita menjadi seorang dosen dan berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Sementara itu, Rektor UIN Antasari, Prof. Dr. Nida Mufida dalam sambutannya menyampaikan bahwa kelulusan ini merupakan awal dari tanggung jawab baru bagi para wisudawan.
“Saudara tidak lagi sekadar menimba ilmu, tetapi kini berada pada fase untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa para lulusan diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan kompetensi yang dimiliki di tengah kehidupan nyata.
Rasa bangga turut disampaikan oleh ayah Huda, Haji Berkatullah. Ia menyebut putrinya sebagai sosok yang membanggakan keluarga.
“Alhamdulillah, hari ini ananda Huda Maulida menjadi anak yang membanggakan orang tua. Semoga ini menjadi bekal untuk masa depan dan kebahagiaan dunia akhirat,” tuturnya.
Wisuda kali ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga awal perjalanan baru bagi para lulusan, termasuk Huda Maulida yang siap melangkah lebih jauh mengejar cita-citanya.
Penulis: M Rahim Arza





