Melalui Komunitas Di Balik Halaman, Tari berharap semakin banyak perempuan di Tanah Bumbu yang berani bersuara, berupaya, dan bergerak dalam berbagai bidang kehidupan.

 

INTERAKSI.CO, Batulicin – Delapan orang duduk melingkar di sebuah kafe berdinding putih. Di tengah mereka, Andi Utari Putri mengangkat sebuah buku berjudul Let Them Theory karya Mel Robbins.

Perempuan yang akrab disapa Tari itu kemudian membagikan isi buku yang baru dibacanya. Menurutnya, buku tersebut mengajarkan tentang melepaskan hal-hal yang berada di dalam maupun di luar kendali manusia, mulai dari tindakan, pikiran, hingga pendapat orang lain.

“Teori ini mengajarkan saya untuk berhenti memaksakan orang lain berubah, membiarkan mereka menjadi diri sendiri, dan mengalihkan energi untuk menjaga kedamaian batin saya sendiri, sekaligus belajar menyayangi dan berwelas asih kepada diri sendiri,” ujarnya.

Suasana itu merupakan kegiatan Book Meet Up perdana Komunitas Di Balik Halaman yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Saat itu, ada delapan orang yang hadir. Namun, enam bulan kemudian, komunitas tersebut telah memiliki 43 anggota.

Sejak menetap di Tanah Bumbu, Tari kerap mencari komunitas baca atau literasi yang bisa menjadi tempat berdiskusi dan berbagi rekomendasi buku. Namun, sejauh pencariannya, belum ada komunitas yang sesuai dengan harapannya.

Di tengah pencarian tersebut, ia menemukan unggahan media sosial yang menampilkan sekelompok orang sedang membaca bersama. Unggahan itu berasal dari seorang pecinta buku asal Aceh yang kini tinggal di Tanah Bumbu dan akrab disapa Kak Ros.

Tertarik dengan kegiatan tersebut, Tari yang berprofesi sebagai fisioterapis di Rumah Sakit Marina Permata menjalin komunikasi dan ikut bergabung dalam salah satu pertemuan mereka. Pertemuan itu digelar secara santai di sebuah toko kue. Di sana, para peserta membaca buku masing-masing, bertukar cerita, dan saling merekomendasikan bacaan.

Sepulang dari pertemuan itu, Tari mulai memikirkan sebuah ruang yang dapat mempertemukan para pembaca buku di Tanah Bumbu secara lebih rutin. Gagasan tersebut akhirnya diwujudkan bersama lima rekannya melalui Komunitas Di Balik Halaman.

Pertemuan pertama komunitas tersebut digelar pada awal Januari 2026. Sehari sebelum kegiatan berlangsung, Tari membuka formulir pendaftaran bagi masyarakat yang ingin hadir. Ia mengaku terkejut ketika sepuluh orang langsung mengisi formulir tersebut.

“Awalnya saya cukup speechless karena tidak menyangka ada yang langsung mengisi sebanyak itu. Waktu itu hujan badai membuat acara harus diundur lebih dari satu jam, sehingga tidak semua yang mendaftar bisa datang. Tapi semangat teman-teman yang hadir luar biasa,” kenangnya.

Di akhir kegiatan, Tari meminta para peserta menyampaikan kesan mereka. Hampir semua memberikan jawaban yang serupa: mereka telah lama menantikan komunitas baca yang menyenangkan dan berharap komunitas tersebut terus berkembang.

“Pertemuan pertama dihadiri delapan orang, sedangkan pertemuan terakhir ada 17 orang. Agendanya juga berbeda. Kalau Vol 1 khusus review buku dan sharing session, Vol 6 kemarin cukup seru karena ada junk journaling juga,” katanya.

Lokasi kegiatan pun selalu berpindah-pindah. Selain karena belum memiliki basecamp, komunitas tersebut sengaja memilih berbagai tempat yang sedang ramai dikunjungi masyarakat.

“Karena kami masih fokus membuat orang penasaran dan tertarik, kami memilih menyusuri tempat-tempat yang sedang viral dan sekiranya bisa dilirik banyak orang,” ujarnya.

Meski terus berkembang, Tari mengaku masih menghadapi tantangan untuk mengajak lebih banyak masyarakat bergabung. Hingga kini, mayoritas anggota komunitas masih berasal dari kalangan perempuan.

Melalui Di Balik Halaman, Tari berharap semakin banyak perempuan di Tanah Bumbu yang berani bersuara, berupaya, dan bergerak dalam berbagai bidang kehidupan.

Bagi masyarakat yang ingin bergabung, calon anggota cukup mengikuti akun Instagram Di Balik Halaman dan menghubungi salah satu anggota tim pengelola. Informasi mengenai kegiatan komunitas selanjutnya akan diumumkan melalui media sosial tersebut.

“Walaupun baru enam bulan dan anggotanya 43 orang, saya percaya small progress is still progress,” katanya seraya menambahkan bahwa komunitas itu mengusung slogan, “Di Balik Halaman Tanbu, Ada Kita yang Bertumbuh.”

Penulis: Jauhar Latifah, Irma Wulandary
Editor: Puja Mandela

Author