INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Ada pemandangan menarik di era media sosial saat ini. Lagu yang dirilis belasan, bahkan puluhan tahun lalu, tiba-tiba kembali terdengar di mana-mana. Bukan karena diputar radio atau masuk soundtrack film baru, melainkan karena viral di TikTok.
Banyak anak muda kini menyanyikan lagu-lagu yang bahkan dirilis sebelum mereka lahir. Mereka hafal bagian reffrain, menggunakan potongan lirik untuk konten, dan ikut tren yang sedang ramai tanpa mengetahui sejarah panjang di balik lagu tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa usia sebuah lagu tidak lagi menjadi faktor utama dalam menentukan popularitasnya.
Baca juga: Developer Indonesia Bikin Gamer Jepang Kagum, Game Kereta RUNNING TRAIN Langsung Meledak di Steam
Dulu, sebuah lagu biasanya memiliki siklus hidup yang cukup jelas. Setelah dirilis, diputar di radio, muncul di televisi, lalu perlahan digantikan oleh lagu-lagu baru. Namun TikTok mengubah pola tersebut.
Di platform ini, yang terpenting bukan kapan lagu dirilis, melainkan apakah ada bagian yang menarik untuk dijadikan konten. Satu potongan lirik yang emosional, lucu, atau mudah diingat bisa membuat lagu lama kembali mendapatkan jutaan pendengar.
Akibatnya, banyak karya musik yang sebelumnya nyaris terlupakan mendapatkan kehidupan kedua.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada musik internasional. Di Indonesia, berbagai lagu lawas dari era 1990-an hingga 2010-an sering kembali masuk percakapan publik setelah digunakan dalam tren tertentu. Lagu-lagu pop, band, dangdut, hingga musik daerah bisa mendadak muncul kembali di beranda jutaan pengguna.
Menariknya, banyak pendengar baru yang kemudian mencari versi lengkap lagu tersebut di platform streaming. Bagi musisi, hal ini menjadi keuntungan besar karena karya lama mereka kembali dinikmati oleh generasi yang berbeda.
Di sisi lain, ada perubahan cara masyarakat menikmati musik. Banyak orang hanya mengenal potongan lagu yang viral tanpa pernah mendengarkan keseluruhan lagunya. Sebuah karya yang awalnya memiliki cerita utuh kadang hanya diingat dari 15 atau 30 detik bagian yang populer di media sosial.
Meski demikian, sulit untuk menolak dampak positif yang dibawa fenomena ini. TikTok telah menjadi semacam mesin waktu digital yang mampu menghubungkan generasi lama dan generasi baru melalui musik.
Orang tua bisa merasa nostalgia ketika mendengar lagu favorit mereka kembali populer. Sementara generasi muda menemukan karya-karya yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Pada akhirnya, TikTok membuktikan bahwa musik yang bagus tidak pernah benar-benar mati. Sebuah lagu bisa saja tenggelam selama bertahun-tahun, tetapi ketika menemukan momen yang tepat di internet, ia dapat kembali hidup dan menjangkau jutaan telinga baru.
Di era algoritma, lagu lama tidak lagi sekadar kenangan. Ia bisa menjadi tren baru yang lahir kembali di tangan generasi berikutnya.





