INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kekeringan membuat kadar garam di air baku meningkat. Per 30 Agustus, kadar garam air baku di intake Sungai Bilu, PT Air Minum Bandarmasih menembus 5.761 miligram per liter. Meskipun, peningkatan terjadi berkali-kali lipat dari seharusnya, PDAM pastikan air olahan tetap aman dikonsumsi.

Menanggapi keluhan sebab air asin dan distribusi air yang tidak lancar, Direktur PT Air Minum Bandarmasih, Zulbadi, menerangkan  fasilitas PDAM sendiri tidak ada yang mengalami kerusakan. Menurutnya, kelistrikan, pompa, dan jaringan pipa masih berfungsi normal. Hanya kuantitas air baku saja yang bermasalah.

“Infrastruktur kita masih bagus dan layak pakai. Air bakunya sana kurang,” terangnya.

Waktu produksi pun menjadi terbatas karenanya, hanya bisa tujuh jam dalam sehari. Kondisi tersebut membuat distribusi air tersendat pada siang hari.

Saat ini, gangguan keterbatasan distribusi air terjadi dihampir merata di Banjarmasin. Namun, sejumlah wilayah di ujung jaringan pipa masih menjadi perhatian utama PDAM. Lokasinya yang berada di ujung pipa membuat wilayah tersebut rentan mengalami gangguan saat produksi air menurun.

Wilayah tersebut mencakup Trisakti, Kompleks Yuka, Pasir Mas, dan Pelambuan di Banjarmasin Barat; Pulau Bromo dan Antasan Bondan di Banjarmasin Selatan; serta Sungai Alalak di Banjarmasin Utara.

Lebih lanjut, Zulbadi juga menegaskan tarif air PDAM tetap normal. Pelanggan tetap membayar sesuai volume pemakaian, seperti hari-hari sebelumnya.

Di sisi lain, sebagai upaya mengurangi dampak kekeringan, PDAM menawarkan air gratis secara kolektif. Melalui RT, pengajuan dapat dilakukan dan mendapat jatah 1 tangki dengan volume sekitar 3000 liter air bersih.

Prediksinya, keterbatasan air baku diperkirakan semakin terbatas saat puncak kemarau di September mendatang. Oleh karenanya, PDAM mengimbau warga untuk lebih bijak menggunakan air, serta menyiapkan air cadangan.

Author