INTERAKSI.CO, Batulicin – Pelaksanaan Pesta Adat Mappanre Ri Tasi’e di Kota Pagatan tahun ini menuai banyak pujian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan musisi.
Vokalis Primitive Monkey Noose, Richy Petroza, memberikan komentarnya terkait pelaksanaan event tersebut.
Menurut Richy, konsep panggung yang dihadirkan penyelenggara lebih menarik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menyoroti penggunaan konsep no roof stage yang dinilai memberikan pengalaman baru bagi penonton.
“Konsep stage keren tahun ini, no roof stage. Penyelenggara benar-benar memanjakan warga Tanah Bumbu,” ujarnya kepada interaksidotco, Selasa (21/4/2026).
Ia juga mengapresiasi adanya dua titik penyelenggaraan acara yakni di Batulicin untuk Hari Jadi Tanah Bumbu dan Pagatan untuk Mappanre Ri Tasi’e. Menurutnya, konsep ini membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati kemeriahan pesta adat tersebut.
Ini juga berhasil menepis keraguan sebagian masyarakat yang sebelumnya menyangsikan keberhasilan event Pesta Adat Mappanre Ri Tasi’e yang dipisah dengan pelaksanaan Hari Jadi Tanah Bumbu.
“Karena ada dua event di Batulicin dan Pagatan, ini belum pernah ada sebelumnya. Warga yang jauh dari Pagatan juga bisa ikut menikmati kemeriahannya,” tambahnya.
Baca juga: Rhoma Irama Goyang Pantai Pagatan, Penonton Membludak
Baca juga: Demi Raja Dangdut, Rhoma Irama KW Naik Motor 10 Jam ke Pagatan
Namun demikian, Richy turut memberikan catatan sekaligus saran kepada panitia terkait peran musisi Kalimantan Selatan. Ia menilai masih ada pola pikir lama yang menganggap musisi Tanah Bumbu belum sejajar dengan musisi tamu dari luar daerah.
“Ini yang masih belum, masih ada mindset lama bahwa musisi Tanah Bumbu belum bisa dibarengin dengan musisi tamu,” tegasnya.
Ia berharap ke depan musisi Tanah Bumbu tidak hanya diberi ruang tampil, tetapi juga mendapat posisi strategis dalam rangkaian acara, seperti menjadi pembuka bagi musisi besar seperti Slank atau Rhoma Irama.
“Harapannya, setidaknya musisi Tanah Bumbu jadi opener musisi dari luar, agar mereka dapat spotlight juga, bukan hanya diberikan wadah untuk manggung,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Arie Tirta Dinata, vokalis Senja Djingga yang kebagian manggung sebelum Tommy Kaganangan pada Jum’at (17/4) malam. Ia mengapresiasi konsep pesta adat ini yang banyak menyajikan hiburan rakyat termasuk apresiasi kepada musisi Tanah Bumbu.
“Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi dan panitia bisa memberikan ruang lebih baik untuk musisi Tanah Bumbu,” ucapnya.
Baca juga: Slank Konser di Pagatan, Pelaku UMKM di Mappanre Ri Tasi Untung Jutaan
Baca juga: Slank Geber Pantai Pagatan, Kaka dan Bang Arul Duet Nyanyikan Ku Tak Bisa
Selain berhasil mengundang Slank dan Rhoma Irama serta memberikan apresiasi kepada musisi Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan, event Pesta Adat Mappanre Ri Tasi’e tahun ini juga membuat sektor ekonomi makin menggeliat.
Lembaga Adat Ade Ogi Tanah Bumbu merangkul lebih dari 160 pelaku usaha. Tidak hanya dari Kalimantan Selatan, tetapi juga merambah hingga Kalimantan Timur.
Lembaga tersebut juga memberikan porsi lebih bagi pengusaha lokal Tanah Bumbu sebelum membuka kuota untuk peserta luar provinsi.
“Kami memberikan waktu 10 hari khusus bagi UMKM daerah untuk pendaftaran dan persiapan, jauh lebih lama dari biasanya yang hanya tiga hari. Ini instruksi langsung dari Bupati dan Sekda agar masyarakat lokal menjadi aktor utama dalam perputaran ekonomi,” ujar Ketua Lembaga Ade Ogi, Fawahisah Mahabatan, saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Ia menambahkan peran lembaga adat tahun ini difokuskan sebagai mentor dan fasilitator. “Sesuai filosofinya, pesta rakyat ini dari rakyat, oleh rakyat, dan kembali untuk rakyat,” pungkasnya.
*
Ditulis oleh manusia, bukan robot.





