INTERAKSI.CO – Jangan mati dulu sebelum membuat buku, dan jika pun harus mati, matilah saat dalam penerbangan. Kalimat itu menempel di kepala Rendy Tisna hingga kini, meski ia lupa siapa yang mengucapkannya.
Kalimat itu salah satu pendorongnya untuk menerbitkan buku kumpulan reportase berjudul Minoritas. Buku itu merekam kehidupan masyarakat di tengah aktivitas pertambangan batubara di Kalimantan Selatan.
Buku yang diterbitkan Arkalitera tersebut menghimpun sejumlah reportase yang dikerjakan Rendy di berbagai kawasan pertambangan. Cerita-cerita di dalamnya menggugah karena menempatkan masyarakat yang terdampak sebagai pusat cerita.
Minoritas memuat enam reportase, yakni “Merebut 717 SHM”, “Makan Korban Lagi”, “Nestapa Batu Bara di PT. MMI”, “Tambang Ilegal di Bekas Perusahaan Daerah”, “Pekat Jerebu Batu Bara”, dan “Dilema Kenaikan Dana CSR Batu Bara”. Laporan-laporan tersebut merekam persoalan agraria, kecelakaan dan keselamatan warga, konflik di kawasan tambang, aktivitas tambang ilegal, pencemaran udara, hingga persoalan distribusi manfaat industri ekstraktif.
Salah satu laporan dalam buku ini mengisahkan warga Rawa Indah, Kotabaru, yang menghadapi persoalan kepemilikan lahan setelah tanah yang mereka tempati bersinggungan dengan izin usaha pertambangan. Reportase lainnya membawa pembaca ke Rantau Bakula, Banjar, tempat warga hidup berdekatan dengan aktivitas pertambangan bawah tanah.
Melalui laporan-laporan tersebut, Rendy tidak melihat pertambangan dari angka produksi, investasi, maupun perizinan belaka. Ia menyoroti orang-orang yang hidup di sekitar wilayah tambang dan bagaimana perubahan ruang hidup memengaruhi tanah, air, pekerjaan, serta kehidupan mereka.
Dalam bagian epilog, Direktur Eksekutif WALHI Kalsel, Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono menilai reportase dalam buku ini menghadirkan cerita tentang masyarakat yang selama ini berada di luar pusat perhatian dalam pembicaraan mengenai pertambangan. Buku ini, menurutnya, menempatkan manusia di balik izin dan data pertambangan sebagai bagian penting dari cerita.
Bagi Rendy, buku ini merupakan bagian dari kerja jurnalistik yang berangkat dari pengalaman bertemu dan mendengar langsung masyarakat. Dalam pengantarnya, ia menempatkan kerja jurnalistik bukan hanya sebagai upaya mencatat kenyataan. Lebih dari itu, memberi ruang bagi mereka yang memiliki posisi tawar lebih lemah.
Pemilihan judul Minoritas sendiri melewati proses panjang. Kata tersebut awalnya diambil dari judul album Slank, band yang telah lama disukai Rendy. Namun, selama proses pengerjaan buku, kata itu kemudian menemukan maknanya sendiri dalam konteks cerita-cerita yang ia kumpulkan.
Minoritas akan mulai dibuka untuk pre-order pada 5 September hingga 20 September 2026 dengan harga Rp85.000.
Melalui buku ini, Rendy membawa pembaca melihat kembali wajah pertambangan dari sisi yang kerap luput dari pemberitaan: mereka yang tinggal di atas tanah yang menjadi sumber kekayaan, tetapi harus berhadapan dengan perubahan ruang hidup di sekitarnya.
“Dengan terbitnya buku ini, saya ingin dikenang. Tidak hanya ada di batu nisan, tapi juga di buku,” ucap Rendy kepada Arkalitera.





