Oleh Puja Mandela
“Tak Boleh Mendua”, single terbaru Senja Djingga, baru saja dirilis pada 14 November 2025. Ada belokan estetik dari sisi nuansa lagu jika dibandingkan karya-karya mereka sebelumnya. Mereka memang masih mengusung tema cinta yang populis, tetapi kali ini warnanya lebih terang, renyah, dan TikTok-friendly.
Pada mini album “Semoga”, Arie, Aldi, Anfar, Ivan dan Erwin bermain di wilayah yang lebih gelap dengan produksi musik yang kompleks. Mereka banyak bicara tentang ketidakberdayaan, baik kepada wanita maupun dunia.
Di lagu “Riuh”, misalnya. Senja Djingga menulis, “Ingin teriak, namun tak berdaya”. Pada “Hilang Arah”, Arie bernyanyi, “Dunia terlalu kejam untuk aku yang lemah”. Sementara single “Semoga” juga menggambarkan seorang laki-laki yang tak punya nyali mengungkapkan perasaannya, “Biarkan kupendam dalam hati saja. Semua tentang dirimu.”
Dari sini terlihat bahwa Senja Djingga merupakan representasi band-band pop Indonesia yang menggunakan formula “aku” sebagai pihak yang tersakiti. Dari masa ke masa, formula ini nyaris tak pernah gagal menggaet pendengarnya. Sebab, semua orang pasti pernah patah hati dan merasa tersakiti.
Pada single “Tak Boleh Mendua”, Senja Djingga tampak lebih realistis. Tak ada lagi narasi penghambaan atau terlalu mencintai kepada seorang wanita. Di dalam liriknya, si pria dihadapkan pada situasi sulit, ia terjebak menyukai dua wanita sekaligus. Meski sempat bimbang, tapi pada akhirnya si pria tetap meyakini bahwa pilihannya hanya satu. Terdengar klise. Tapi tak jarang di dalam hidup kita memang dihadapkan pada situasi seperti itu.
Lalu, jika bicara dari sisi musikalitas. Senja Djingga kini memilih bermain sederhana dan lebih nge-band. Lead gitar kini lebih menonjol. Ia hadir di bagian intro dan interlude. Berbeda dengan sebelumnya, gitar terkesan hanya sebagai pelengkap.
Saya kira ini adalah perubahan estetika bermusik yang wajar. Banyak musisi juga melakukannya. Jangankan sekadar mengubah nuansa, dalam sejarah musik populer, satu musisi memainkan banyak genre pun adalah hal yang lumrah.
Yang menarik adalah soal isu lelaki setia yang mereka usung. Jika kita melihat ke belakang, musisi bisa merepresentasikan lagu yang ia nyanyikan atau ciptakan. Tentu kita masih ingat ucapan Ahmad Dhani bahwa hanya dia yang pantas menyanyikan Madu Tiga. Atau saat Slank menulis, “Dari pertama kita kenalan, kan sudah ku bilang padamu, kalau kita boleh berkencan, tapi aku bukan milik kamu” yang mewakili citra dan gaya hidup Slank pada era awal 90-an.
Bagaimana dengan “Tak Boleh Mendua”?
Hari ini kesetiaan adalah barang yang makin mahal. Bahkan, mencari lelaki yang tak pernah melirik wanita lain pun sudah sulit. Umumnya, lelaki punya satu tempat di hatinya untuk meletakkan kenangan-kenangannya bersama wanita yang pernah ada di masa lalunya. Lelaki selalu pandai menyimpan rapat-rapat cerita dan kenangan itu. Sudahlah, akui saja. Kita, laki-laki, memang seperti itu.
Lantas, merepresentasikan siapa kah lirik di dalam lagu ini? Siapakah sosok lelaki setia itu? Apakah yang dimaksud adalah si vokalis, Arie Tirta Dinata sendiri?
Apalagi di lagu ini dia bernyanyi dengan meyakinkan, seolah-olah dia seperti pria rumahan kutu buku yang nggak suka nongkrong, nggak mau menduakan cinta, dan hanya setia dengan satu wanita.
Jawabannya?
Tentu hanya Arie dan personel Senja Djingga yang tahu.




![[Review] Wildoze dan Angka 27](https://interaksi.co/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260226-WA0014-218x150.jpg)
