Oleh: Noorhalis Majid
Ada banyak kegaduhan yang tidak penting terjadi belakangan ini. Kegaduhan yang semestinya tidak perlu, bila pemerintah bekerja sungguh-sungguh untuk kesejahteraan warga. Kegaduhan itu terjadi, karena warga merasa, tindakan pemerintah sama sekali tidak mewakili suara dan keinginan warga.
Gaduh karena beli mobil listrik, ingin beli kamera, beli susu dan buah, renovasi ruang kerja, beli baju baru, ganti horden baru, sewa mobil dinas, bikin rumah dinas baru, ulang tahun mewah di Jakarta, perjalanan ke luar negeri, bagi-bagi jabatan di lingkungan keluarga dan handai tolan, serta segala macam yang tidak mewakili kebutuhan warga, sehingga menimbulkan kegaduhan.
Waktu dan perhatian pemerintah habis untuk mengelola kegaduhan oleh ulahnya sendiri. Klarifikasi dilakukan, counter wacana disuguhkan, dan para pejabat memberi kesaksian tentang maksud dan tujuan yang dianggap disalahpahami. Tapi siapa yang percaya dengan penjelasan dan klarifikasi tersebut? Warga tidak bodoh. Warga melihat, mencerna, menyimak, merasakan, dan memikirkan dengan segenap kesadaran, bahwa sikap dan tindakan, cermin dari hati dan pikiran. Kalau tindakan hanya untuk memperkaya dan memfasilitasi diri sendiri, itulah cermin dari hati dan pikiran pelakunya.
Bila pemerintah bekerja sepenuhnya untuk membangun kesejahteraan bersama warga, mestinya kegaduhan hanya untuk hal-hal substansial. Apa hal substansial itu? Misalnya, gaduh mempersoalkan bagi hasil pengelolaan sumber daya alam yang tidak pernah adil. Gaduh karena mengundang para investor untuk membangun kawasan-kawasan industri baru yang bakal menyediakan lapangan pekerjaan. Gaduh karena ingin mendirikan universitas bertaraf internasional dengan berbagai jurusan pilihan yang dibutuhkan pasar tenaga kerja. Gaduh karena akan ada pabrik-pabrik modern yang mengadopsi teknologi terbaru dan memberi peluang putra-putra daerah beradaptasi dengan teknologi modern. Gaduh karena sungai, jalan, jembatan, trotoar, pasar, sekolah, rumah sakit dan hutan kota akan dipercantik seindah mungkin dan memerlukan partisipasi semua pihak. Dan berbagai kegaduhan yang lebih substantif, sehingga waktu dan perhatian, hanya terkuras untuk hal-hal yang memberi faedah.
Mestinya pemerintah gaduh menata dan mengelola ekonomi daerah agar tidak ambruk, karena dolar terus melangit dan rupiah terpuruk. Mempersiapkan ketahanan warga. Empati, prihatin, dan berpihak pada segala kesulitan warga yang mengais rejeki di jurang miskin ekstrim. Bukan sebaliknya, mabok memfasilitasi diri sendiri dengan uang rakyat, dan ujungnya hanya memupuk kecemburuan sosial, menciptakan kegaduhan atas ulahnya sendiri.
Bagi warga, gaduh adalah kontrol atas kesewenangan kekuasaan. Dari pada apatis, hoples, putus asa, lebih baik gaduh. Gaduh adalah cermin bahwa warga peduli. Warga masih waras dan mampu melihat mana yang baik, penting dan urgen untuk diperhatikan pemerintah. Gaduh adalah demokrasi, tentang kontrol warga atas pemerintahan yang mestinya mensejahterakan warga.





