Oleh: Noorhalis Majid
Malam tadi saya mendengarkan cerita dari seorang tokoh agama, tentang sosok tokoh agama dunia yang sangat sederhana lagi jujur. Ketika tokoh dunia tersebut datang ke Indonesia, dia ditawari menaiki mobil termewah, agar nyaman dan aman, tapi pilihannya justru minta disediakan mobil termurah dan terbuka. Dia minta mobil yang umum dipakai oleh warga dan mobil tersebut bisa dibuka, sehingga warga bisa melihat dan berinteraksi dengan beliau. Penampilannya sangat sederhana, Sepatu kulitnya sudah kusut, melentik karena sudah lama dipakai. Sementara para penyambutnya mengenakan sepatu dan pakaian bagus serta mahal. Demikian cerita seorang tokoh agama, tentang kesederhanaan tokoh agama dunia yang membuatnya kagum.
Hari-hari belakangan ini, kita dipertontonkan pemimpin yang semakin sulit menjadi contoh. Idealnya pemimpin itu menjadi contoh dan tauladan. Contoh tentang segalanya, termasuk pemikiran, sikap, tindakan dan gaya hidup. Tapi semakin ke sini, pemimpin tidak menjadi contoh. Padahal warga memerlukan tauladan dari pemimpin.
Kita disuguhkan tontonan pemimpin yang “kebablasan” dengan anggaran belanja untuk dirinya. Anggaran beli susu, beli buah, rehap ruangan kerja, beli kamera, bikin rumah dinas, beli mobil dinas mewah, pakaian kerja, perayaan ulang tahun, beli kursi pijat, perjalanan dinas sambung puting, dan segala yang tertuju pada fasilitas dan kesenangan diri sendiri, namun dibiayai ratusan, bahkan milyaran menggunakan anggaran daerah.
Sekarang ini, sepertinya hampir-hampir mustahil bagi kita menemukan pemimpin seperti yang dicontohkan Umar Bin Abdul Azis. Beliau memiliki prinsif kepemimpinan yang dapat ditauladani sepanjang masa. “Kalau rakyat kenyang, akulah yang terakhir kenyang. Kalau rakyat lapar, akulah yang pertama lapar”. Artinya, anggaran daerah itu mestinya digunakan untuk kesejahteraan warga, bukan untuk kemewahan fasilitas hidup pemimpin. Kalau pemimpin masih memikirkan kesenangan dan fasilitas bagi dirinya sendiri, berarti pemimpin tersebut mentalnya miskin. Mungkin baju dan kendaraannya mewah, namun sejatinya hati dan mentalnya miskin.
Tidak dapat dipungkiri, pemimpin terpilah dalam tiga level yang sangat berbeda. Ada pemimpin idiologis, yaitu pemimpin yang memiliki ide, gagasan, pemikiran dan visi dalam membangun kesejahteraan bersama. Kerjanya setiap hari berusaha mewujudkan visi besar dalam membangun kesejahteraan semua warga. Tidak ada mimpi lain selain itu, apalagi mimpi untuk membangun kemewahan diri pribadi. Sebab kemewahan diri pribadi, hanya akan memperlebar jarak antara pemimpin dengan warganya.
Level kedua yang lebih rendah, adalah pemimpin yang pragmatis. Menjadi pemimpin hanya untuk mencari keuntungan bagi dirinya. Menambah kemewahan dan kesenangan diri. Mencari peluang untuk hal-hal yang menguntungkan diri pribadi. Sementara yang tidak dianggap membawa keuntungan akan diabaikan.
Level ketiga yang jauh lebih rendah, adalah pemimpin calo, makelar, pambulantikan, pahayaman. Pada level ini, jabatan digunakan semata untuk mencari persekot, imbalan, dan komisi. Segala kebijakan, peraturan serta anggaran, dinegosiasikan agar ada pembagian bagi dirinya sendiri. Menjadikan jabatan sebagai perantara atau penghubung untuk mendapatkan berbagai imbalan.
Walau teramat langka, dalam lubuk hati terdalam, warga merindukan pemimpin idiologis, sederhana dan jujur. Karena hanya pemimpin seperti itu yang mampu membawa pada perubahan. Pemimpin idiologis, tentu saja lahir dari warga yang juga idiologis. Bukan warga yang pragmatis, apalagi warga yang mentalnya calo, makelar, pambulantikan dan pahayaman. Bukankah pemimpin, cermin dari warganya?





