Wildoze menyebut angka 27 bukan sekadar umur, tapi simbol perlawanan terhadap keraguan, tekanan sosial, dan rasa gagal yang sering datang di fase tersebut.

INTERAKSI.CO, Batulicin – Wildoze! Namanya terdengar liar, gelap dan brutal. Ini adalah band hardcore pertama dari Batulicin, Kalimantan Selatan, yang baru saja merilis single perdananya: “27”. Badas!

Mendengar 15 detik pertama, saya yakin sekali akan menemukan lirik-lirik penuh perlawanan; membakar kantor polisi, menjarah ind*maret, atau minimal berteriak: MBG: Maling Berkedok Gizi!

Tapi ternyata Wildoze memilih jalur neraka yang lain. Tak ada bentuk perlawanan frontal semacam itu. Liriknya justru sederhana dan di beberapa bagian terkesan ingin memotivasi pendengarnya. Misalnya pada part “Hidup hari ini tujuan nyata/terus maju berusaha”.

Lalu, ada pula lirik “Hidup kan bergelora/dengan distorsi bergema”. Padahal, tanpa diberi tahu pun, semua orang sudah paham bahwa lagu ini dibawakan dengan distorsi, yang untungnya terdengar bagus, agresif, dan menggambarkan semangat perlawanan. Minimal melawan selera pop yang mendominasi coffee shop.

Lirik “27” ditulis oleh vokalis yang sekaligus kapten dari Wildoze: Ariffin Khrl. Seorang pria yang tampak kalem, tetapi teriakannya ekspresif dan bertenaga, meskipun untuk genre hardcore, produksi vokalnya masih terlalu sempurna.

Pada menit 1:23, tensi menurun, lalu sedikit ada aroma Timur Tengah sebelum akhirnya lead gitarnya kembali menyalak. Sebuah part interlude yang variatif dan berhasil menambah keliaran komposisinya. Dalam mengaransemen lagu ini, Wildoze dimentori oleh Richy Petroza yang namanya sudah terlalu ngepop di skena musik keras.

Baca juga: Alinea Baru Gugat Sistem Ojol Lewat “Tanpa Aplikasi”

Baca juga: “Doa Orang-Orang Lemah” Dirilis, Kolaborasi Musisi Kalsel – Kalteng

Wildoze, harus diakui membawa warna baru bagi skena musik Batulicin yang sebelumnya sudah cukup berwarna dibanding tiga atau lima tahun lalu. Namun, dibandingkan dengan pengusung musik keras lainnya seperti Primitive Monkey Noose atau No Counter, kehadiran Wildoze sudah tidak terlalu mengejutkan.

Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak potensial. Arifin Khrl, M Abde Syahrian, Danar Agiputra, M.Ramadhani, dan R.Ihza Hernanda, adalah barisan musisi pemberontak yang meski masih malu-malu, tapi sudah cukup berani untuk menyuarakan kegelisahan yang mereka alami.

Wildoze menyebut angka 27 bukan sekadar umur, tapi simbol perlawanan terhadap keraguan, tekanan sosial, dan rasa gagal yang sering datang di fase tersebut. Barangkali ini juga menjadi do’a agar tak ada personel Wildoze yang mati mengenaskan di usia 27 seperti Brian Jones, Janis Joplin, Kurt Cobain, atau Jim Morisson.

Ya, semoga saja Wildoze menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda dan bisa menghantam apa saja, tak hanya lewat musik dan distorsinya, tetapi juga melalui liriknya.

Author