INTERAKSI.CO, Batulicin – Ratusan penumpang KMP Awu Awu tujuan Kabupaten Barru, Makassar di Pelabuhan Batulicin harus berlapang dada tinggal di sejumlah bangunan sederhana.
Sebanyak 261 penumpang tersebut terlantar sejak Selasa (17/3/2026) dini hari akibat kondisi kapal yang mengalami overload (kelebihan muatan) cdan kini diungsikan sementara di lima lokasi, mulai dari kantor PT ASDP hingga sejumlah penginapan di sekitar pelabuhan, sembari menunggu jadwal keberangkatan yang dijadwalkan pada Kamis (19/3) mendatang.
Salah satu tempat penampungan sementara terbanyak terletak tepat di pintu masuk pelabuhan milik Haji Syarwani yang menampung hingga 120 penumpang.
Baca juga: Bupati Tanah Bumbu Tinjau Penumpang Tertunda di Pelabuhan Batulicin, Siapkan Dapur Umum
Pantauan di lapangan pada Rabu (18/3) siang menunjukkan kondisi bangunan kayu berdenah los layaknya aula tersebut dipadati penumpang dan barang dengan kondisi berdempetan.
Beberapa barang bawaan bahkan terpaksa ditumpuk di luar ruangan demi menjaga kenyamanan penumpang di dalam.
Kondisi serupa terlihat di kantor PT ASDP, di mana sekitar 50 lebih penumpang harus beristirahat dengan berdesakan beralaskan tikar di ruangan-ruangan pelayanan hingga lorong kantor.
Untuk meringankan beban warga, sejumlah fasilitas pendukung dari Pemerintah Daerah Tanah Bumbu, seperti dapur umum hingga MCK sementara, telah dioperasikan sejak malam hari guna memenuhi kebutuhan santapan sahur para penumpang.
Salah satu penumpang asal Kabupaten Sampit, Kalimantan Tengah, Hasan (53), mengungkapkan kesedihannya karena harus menunda momen berkumpul dengan sanak saudara.
Hasan yang tiba di Pelabuhan Batulicin sejak Minggu (15/3) mengaku telah membayar Rp1,5 juta per orang melalui travel untuk biaya perjalanan sampai ke rumahnya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
“Akibat kejadian ini, tak ada pilihan selain bersabar. Harusnya bertemu keluarga sebelum lebaran kemungkinan tahun ini harus tertunda, karena kalau diperkirakan kami sampai pada lebaran karena harus menempuh perjalanan darat lagi dari pelabuhan ke Bulukumba,” ujar Hasan kepada interaksidotco.
Meski sejumlah fasilitas peristirahatan dan kebutuhan pokok terpenuhi, Hasan mendesak pihak perusahaan pelayaran agar bertanggung jawab atas kerugian waktu dan tenaga yang dihabiskan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para penumpang yang terlantar ini diduga merupakan korban praktik calo yang menawarkan tiket tidak resmi dengan harga fantastis, yakni berkisar antara Rp250.000 hingga Rp700.000, padahal harga tiket resmi hanya sebesar Rp128.000 per orang.





