Oleh: Noorhalis Majid
Entah kenapa, May Day sekarang tidak garang lagi, bahkan semakin lembut. Berubah menjadi pesta, serimonial, perjamuan dan bagi-bagi hadiah. Padahal perjuangan standar hidup layak bagi buruh masih perlu dilakukan dengan pekik suara nyaring.
Dukungan pemerintah agar dunia usaha mampu memenuhi tuntutan buruh juga tidak serius. Tingginya pajak, rumitnya perizinan dan suku bunga yang tidak kompetitif, membuat pelaku usaha terhimpit, berada dalam dilema berkepanjangan.
Ketika May Day sudah bergeser jadi perjamuan, maka perlahan semangat kolektif dalam menuntut keadilan, kesejahteran, dan hak-hak dasar atas hidup layak, semakin sulit dikobarkan. Padahal perjuangan buruh tidak sekedar tuntutan upah, mencakup di dalamnya perlawanan terhadap eksploitasi, perbaikan jam kerja, jaminan sosial, serta partisipasi aktif dalam pembentukan kebijakan publik. Perjuangan ini memerlukan kesepahaman dengan pelaku usaha, karena pelaku usaha juga mengalami persoalan yang tidak sederhana.
Tidak masalah buruh berpesta saat May Day, tapi jangan lengah pada semakin tingginya PHK, tidak dipatuhinya UMP, belum adanya jaminan sosial pekerja, dan semakin sulitnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan buruh tidak dapat bekerja, karena dunia usaha juga terjepit pada situasi ekonomi yang semakin memburuk, dan pemerintah belum mampu membuka lapangan pekerjaan, apalagi menciptakan peluang ekonomi.
Kawasan-kawasan Industri yang dijanjikan pemerintah, nampaknya hanya ramai pada serimonial dan janji kampanye. Kenyataannya, faktor pengungkit ekonomi tidak kunjung mampu diciptakan, sehingga jangankan menghadirkan investor, sekedar menjaga ekonomi tetap stabil saja begitu sulit.
Di tengah situasi yang semakin “camuh” dan tidak sederhana ini, tantangan terbesar dari buruh adalah membangun solidaritas dan keadilan sosial. Belum tentu semua buruh mau dan berani melakukannya. Apalagi melawan ketidakadilan struktural guna memastikan perlindungan sosial bagi seluruh pekerja, tentu memerlukan pemikiran, pembagian peran dan langkah-langkah strategis. Bila tidak, maka buruh tidak akan dipandang sebagai aktor penting dalam proses kebijakan, termasuk merumuskan kebijakan menyangkut nasibnya sendiri.
May Day harus menjadi refleksi perjuangan yang konsisten, karena tidak ada yang akan memperjuangkan nasib buruh, kalau bukan buruh itu sendiri. Dan ingat, teman karib terdekat dari buruh bukan siapa-siapa, tapi pelaku usaha itu sendiri, pihak yang berjibaku “hampas pangkung, tumbang tumbalik”, berusaha sekuat tenaga menciptakan lapangan pekerjaan, agar buruh dan pelaku usaha sama-sama sejahtera.





