INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kekhawatiran melihat siswa yang sering tak makan saat jam istirahat mendorong Madrasah Ibtidaiyah Khadijah di Banjarmasin Timur memperjuangkan akses ke program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kondisi ekonomi mayoritas orang tua siswa yang terbatas mendorong Madrasah Ibtidaiyah Khadijah di Banjarmasin Timur untuk memperjuangkan akses ke program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Upaya itu berbuah hasil setelah melalui serangkaian pengajuan dan peninjauan.

Sekolah yang berada di Gang Dwikora tersebut kini rutin menerima distribusi MBG setiap hari. Sebanyak 115 porsi makanan dibagikan kepada siswa dan tenaga pendidik, membantu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus meringankan beban murid dan orang tua.

Baca juga: Disdik Banjarmasin Siapkan SPMB 2026, Pendaftaran Direncanakan Online

Manfaat program ini dirasakan oleh para siswa, salah satunya Muhammad Sholeh Zain (13), murid kelas VI.

Sebelumnya, dengan uang saku yang terbatas, ia kerap menahan lapar karena tidak bisa membeli makanan di jam istirahat.

“Sekarang bahkan sisa uang saku bisa ditabung,” ujarnya.

Kepala sekolah, Suriansyah, menyebut sebagian besar wali murid berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sebelum adanya MBG, tidak semua siswa dapat makan dengan layak saat jam istirahat.

“Makanya kami berupaya agar sekolah ini bisa masuk sebagai penerima, karena memang sangat dibutuhkan oleh siswa,” katanya.

Namun, jalan menuju program tersebut tidak langsung terbuka. Awalnya, hanya Taman Kanak-Kanak Khadijah yang masuk dalam daftar penerima manfaat.

Pihak yayasan kemudian datang langsung mengajukan permohonan agar Madrasah Ibtidaiyah Khadijah turut diikutsertakan.

Baca juga: Fokus MBG ke Anak Kurang Gizi Dinilai Tepat, Pengamat Dorong Evaluasi dan Perbaikan Data

Baca juga: Temuan Diduga Bom Mortir di Loteng Rumah Warga Banjarmasin Picu Kepanikan, Area Disterilkan

Kepala SPPG Sungai Bilu, Ahmad Rizqi, mengonfirmasinya. Pihaknya sempat melakukan dua kali peninjauan sebelum akhirnya memutuskan menyalurkan MBG ke sekolah itu sekitar dua bulan lalu.

“Awalnya hanya TK yang dapat. Tapi pihak yayasan datang mengajukan, lalu kami tinjau dua kali. Akhirnya kami masukkan juga untuk MI,” ujarnya.

Meski telah berhasil menjadi penerima MBG, tantangan lain muncul. Akses menuju sekolah yang sempit membuat kendaraan pengangkut tidak bisa masuk hingga ke halaman madrasah.

Setiap pagi, armada dari dapur SPPG hanya mampu mengantar makanan sampai di depan gang. Dari titik tersebut, makanan harus dibawa sejauh kurang lebih 300 meter melalui gang yang lebarnya hanya cukup untuk dua sepeda motor bersisian.

Awalnya, para guru harus bolak-balik mengangkut ompreng menggunakan sepeda motor. Namun, cara itu tidak bertahan lama karena mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Program Makan Bergizi Gratis
Momen para guru MI Khadijah gunakan gerobak mengangkut MBG. Dari depan gang ke dalam sekolah. Foto: Suriansyah

Sekolah kemudian mencoba alternatif dengan meminjam gerobak milik penjual tahu di sekitar gang. Akan tetapi, penggunaan gerobak berbahan kayu itu hanya berlangsung dua pekan setelah pihak dapur mengingatkan soal higienitas.

“Katanya jangan pakai yang kayu, soalnya terlihat kotor dan sebaiknya ditutup atas gerobaknya,” ujar Suriansyah.

Sumber: Soraya Alhadi. Proses penjemputan dan memuat ompreng-ompreng ke gerobak

Setelah berunding dengan yayasan, sekolah akhirnya membuat gerobak sendiri yang lebih sesuai standar. Sejak saat itu, distribusi MBG menjadi lebih lancar.

Untuk mengoperasikannya, sekolah juga mempekerjakan satu petugas khusus dengan upah Rp30 ribu per hari yang diambil dari insentif pengelolaan MBG.

“Dulu guru yang antar pakai motor, tapi kelelahan. Sekarang saya yang bantu,” kata Beni Haryanto, petugas yang setiap hari mendorong gerobak berisi puluhan ompreng menyusuri gang.

Editor: Puja Mandela

 

Author