TEMPO hari, aku dan beberapa teman diajak mengikuti sebuah kegiatan kemah. Setibanya di sana, aku melihat beberapa spanduk, tenda yang berbaris rapi, serta suasana yang ternyata “tidak meriah”.

Tanpa banyak basa-basi, kegiatan langsung dimulai. Kami tidak diberi banyak waktu untuk bersantai. Para narasumber menugaskan kami terjun langsung ke lapangan untuk melakukan wawancara dan menggali data. Kami diminta berpikir cepat, bekerja sama, dan memecahkan berbagai persoalan.

Sepanjang kegiatan itu, aku berlari ke sana kemari, mencoba menyelesaikan tugas yang terasa begitu menantang. Aku dipaksa berpikir cepat, belajar berinteraksi dengan orang baru, bahkan menyiapkan mental untuk berbicara dan bekerja dalam keadaan lelah. Bahkan di luar jam belajar, kami tetap terjebak dalam diskusi yang bikin otak bekerja keras.

Tak lama setelah kegiatan pertama selesai, aku kembali ditawari mengikuti kegiatan lain yang lokasinya tidak jauh berbeda. Sebut saja kegiatan B.

Kali ini aku harus berpikir dua kali. Bukan karena takut, melainkan ragu. Bayangan malam tanpa istirahat dan sesi materi yang padat kembali terlintas di pikiranku.

Namun guruku meyakinkanku bahwa kegiatan kali ini jauh lebih santai. Rundown acaranya tidak terlalu padat dan lebih banyak diisi hiburan. “Anggap saja liburan,” begitu kata beliau.

Sebagai remaja yang menyukai suasana ramai dan penuh kebersamaan, tentu aku tergoda. Apalagi setelah membaca susunan acaranya, memang banyak permainan dan hiburan yang terlihat menyenangkan.

Saat hari pelaksanaan tiba, benar saja. Aku sangat menikmati setiap permainan yang ada. Aku berkenalan dengan banyak teman baru, bernyanyi bersama, saling bercerita tentang kehidupan sekolah, bercanda, bahkan tertawa hingga lupa waktu. Suasananya hangat dan ringan, seperti benar-benar sedang berlibur bersama orang-orang baru. Materi tetap ada, tetapi porsinya hanya sedikit dibandingkan keseruan yang kami rasakan.

Setelah mengikuti dua kegiatan tersebut, seorang temanku bertanya tentang pengalamanku karena kegiatan B akan diadakan lagi dan ia diminta ikut serta.

Aku lantas berpikir. Kalau dipersentasekan, kegiatan A itu sekitar 90 persen berisi materi dan praktik, sedangkan 10 persen sisanya hanya obrolan ringan dan pengenalan tentang pohon, karena kegiatan itu juga diisi dengan penanaman pohon.

Sementara kegiatan B justru kebalikannya. Sekira 80 persen diisi permainan, hiburan, dan keakraban, sedangkan materinya hanya kurang lebih 20 persen.

Setelah mengucapkan itu, aku baru benar-benar menyadari betapa bertolak belakangnya kedua kegiatan tersebut.

Di kegiatan A, aku memang merasa lelah, panik, bahkan kewalahan. Namun dari sana aku belajar banyak hal. Kreativitasku dipaksa bekerja, mentalku diuji, dan caraku berpikir diasah melalui berbagai tantangan. Meski terlihat minimalis dan jauh dari kata mewah, kegiatan itu meninggalkan bekas yang dalam di pikiranku.

Sedangkan yang paling kuingat dari kegiatan B hanyalah keseruannya. Tawa, lagu-lagu yang dinyanyikan bersama, teman-teman baru, dan suasana hangat yang menyenangkan.

Semuanya terasa ringan dan menghibur, tetapi hampir tidak ada tantangan yang benar-benar membekas dalam diriku. Mungkin karena itulah, ketika kegiatan B kembali diadakan, aku memilih untuk tidak ikut lagi.

Belakangan aku juga mengetahui bahwa anggaran kedua kegiatan itu ternyata sangat berbeda. Aku justru merasa kegiatan A yang sederhana dan minimalis jauh lebih kaya akan pelajaran serta pengalaman hidup.

Dari sana aku memahami satu hal: kesan terbaik tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang, kegiatan yang terlihat sederhana justru mampu memberi pengalaman paling berarti.
*
Penulis: Ayu Sita, Pelajar SMAN 1 Karang Bintang

Author