INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Penyelenggara Pra-Biennale Kalimantan 2026 mengangkat tema “Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama” sebagai pengantar menuju Biennale Kalimantan yang akan digarap lebih serius.

Gagasan Biennale Kalimantan disebut telah bergulir selama dua dekade terakhir melalui berbagai pameran bersama perupa Kalimantan di Balikpapan, Banjarmasin, dan Palangkaraya.

Selain itu, sejumlah agenda seni rupa seperti Pameran Besar Seni Rupa “Kayuh Baimbai” 2019 di Samarinda dan “Bias Borneo” 2023 di Banjarmasin turut menjadi bagian dari perjalanan wacana tersebut.

Tim Kurator Pra-biennale Kalimantan 2026, Hajriansyah, menilai transformasi pascapandemi dan perkembangan digitalisasi yang masif semakin mendekatkan ruang kebersamaan, aktivitas pameran, serta pewacanaan seni rupa Kalimantan. Berbagai capaian estetik dan penyebarannya kepada publik maupun masyarakat digital juga terus menjadi bahan diskusi dalam berbagai forum.

Melalui tema “Sajian: Makanan sebagai Bahasa Pertama”, dia mengajak seniman dari seluruh Kalimantan untuk merefleksikan peran makanan dalam membentuk dan menegosiasikan identitas kolektif masyarakat.

“Makanan dipandang tidak hanya sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai medium yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, sejarah, serta kehidupan sosial,” kata Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin itu.

Pameran ini akan menampilkan karya dalam berbagai medium, antara lain lukisan, instalasi, art printing, fotografi arsip, art video, dan praktik berbasis riset. Para seniman diajak mengeksplorasi hubungan makanan dengan kebudayaan dan peradaban Kalimantan melalui pendekatan artistik masing-masing.

Pameran ini, lanjut Hajri, juga berupaya mempertemukan seniman dengan berbagai kelompok masyarakat, seperti petani, juru masak, tetua adat, perempuan pasar, dan komunitas lainnya. Ruang pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka dialog antara beragam bentuk pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat.

Penyelenggara membuka kesempatan bagi seniman untuk mengirimkan karya berupa lukisan, art printing, instalasi, fotografi, dan video tanpa batasan ukuran maupun media. Karya yang diajukan harus merupakan karya terbaru, belum pernah dipamerkan, dan dibuat dalam kurun waktu 2025–2026.

Setiap seniman dapat mengajukan maksimal dua karya melalui formulir pendaftaran di https://forms.gle/Y1fo9tZcTofZnFhc9. Pendaftaran dibuka sejak informasi disebarkan hingga 20 Juli 2026 pukul 24.00 WITA.

Tim Kurator akan menyeleksi 24 karya peserta dari seluruh Kalimantan dan enam karya peserta undangan untuk dipamerkan di ruang utama, yakni Gedung Wargasari Taman Budaya Kalimantan Selatan. Selain itu, sebanyak 25 karya peserta dari Kalimantan Selatan akan dipamerkan di venue pendukung, yaitu Bengkel Seni Sholihin Taman Budaya Kalimantan Selatan.

Peserta yang lolos kurasi akan diumumkan pada 24 Juli 2026 melalui berbagai platform media sosial. Tim Kurator terdiri atas empat orang yang mewakili unsur praktisi seni, akademisi, dan pengamat seni.

“Karya yang terpilih akan memperoleh uang insentif yang disesuaikan dengan asal pengiriman karya,”tutupnya.

Author