INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kualitas udara di sejumlah kota di Kalimantan memburuk di tengah meningkatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu wilayah dengan kondisi paling mengkhawatirkan setelah indeks kualitas udara (AQI) melonjak ke level berbahaya pada Minggu (30/8/2026).

Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada 30 Agustus 2026, kondisi udara di sejumlah kota di Kalimantan berada pada kategori mulai dari sedang hingga berbahaya. Kondisi paling ekstrem terjadi di Palangka Raya, yang mengalami lonjakan konsentrasi partikulat halus PM2.5.

Data pemantauan IQAir pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 WIB mencatat AQI Palangka Raya mencapai 1.341 dan masuk kategori berbahaya. Konsentrasi PM2.5 saat itu mencapai 747,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Baca juga: Sambut Konferensi Nasional KBB di Banjarmasin, LK3 dan STT GKE Perkuat Kolaborasi Lintas Iman

Kondisi tersebut terjadi ketika kabut asap akibat karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Pemantauan lain bahkan mencatat konsentrasi PM2.5 di Palangka Raya sempat mencapai 1.068,9 µg/m³, jauh di atas ambang kualitas udara yang dianggap aman.

Dampak kabut asap juga terlihat dari menurunnya jarak pandang. Di sejumlah wilayah Palangka Raya, jarak pandang dilaporkan turun hingga sekitar 1–1,2 kilometer. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.

Kondisi buruk tersebut bukan kali pertama terjadi di Palangka Raya sepanjang Agustus 2026. Sebelumnya, kualitas udara di ibu kota Kalimantan Tengah itu juga beberapa kali masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat paparan asap karhutla.

BMKG menjelaskan pergerakan dan kecepatan angin turut memengaruhi penyebaran kabut asap. Angin dapat membawa asap dari wilayah yang mengalami karhutla menuju kawasan permukiman dan wilayah lain di sekitarnya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika konsentrasi polutan meningkat.

Data kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu mengikuti kondisi cuaca, arah angin, serta perkembangan titik kebakaran. Karena itu, pemantauan indeks kualitas udara secara berkala menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap.

Author