INTERAKSI.CO, Batulicin — Anggota Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H.M. Syaripudin, menggandeng para pegiat budaya untuk mengupas tuntas tantangan ekosistem seni dan kebudayaan daerah dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper).

​Kegiatan Sosialisasi Produk Hukum Daerah / Peraturan Daerah (Sosper) Nomor 4 Tahun 2017 tentang Budaya Banua dan Kearifan Lokal ini berlangsung di Hy Dessert, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, Sabtu (24/10/2026) siang.

​Di hadapan para guru, komunitas literasi, dan pegiat budaya, politisi yang akrab disapa Bang Dhin ini menekankan pentingnya penguatan ekosistem seni dan budaya lokal agar tidak lagi berpijak pada pola lama yang sekadar menggantungkan harapan pada bantuan dana pemerintah.

​Menurut Bang Dhin, kemajuan kebudayaan harus dimulai dari bawah melalui perbaikan pola pikir dan penyediaan fasilitas penunjang bagi para pelaku seni.

​”Kita perlu melihat roadmap dari bawah ke atas, jangan dari atas ke bawah. Ini penting untuk mendorong payung hukum yang jelas bagi para pelaku kebudayaan dan kearifan lokal,” ujar Bang Dhin.

​Ia juga menyoroti pentingnya mengoptimalkan Perda Kabupaten Tanah Bumbu Nomor 13 Tahun 2019 guna memperkuat eksistensi sanggar, lembaga adat, serta pendataan situs budaya secara komprehensif.

​Selain Bang Dhin, acara ini menghadirkan jurnalis sekaligus musisi Puja Mandela serta budayawan Rafii Syihab sebagai narasumber pendamping untuk membedah kondisi riil kebudayaan di daerah.

​Dalam pemaparannya, Puja Mandela menyoroti pentingnya mengangkat isu lokalitas dengan meningkatkan kualitas karya seni agar lebih menarik, relevan, dan diminati oleh kalangan muda serta masyarakat luas.

​Senada dengan itu, Rafii Syihab menguliti persoalan ekosistem seni budaya di Tanah Bumbu yang dinilai belum terbangun secara optimal.

​Menurutnya, selama ini ekosistem budaya kerap terjebak dalam siklus instan dan hanya bergerak saat ada kucuran bantuan pemerintah, lalu terhenti setelah laporan pertanggungjawaban selesai.

​Kritik dan gagasan tersebut langsung direspons antusias oleh para peserta. Sri Supadmi, Pak Gozali, serta perwakilan guru dan komunitas literasi turut memperkaya diskusi dengan menekankan pentingnya pelibatan dunia pendidikan, fasilitasi tokoh adat di tingkat desa, hingga penciptaan ruang dialog agar tradisi dapat terus dirawat tanpa gesekan sosial.

​Menanggapi berbagai masukan dari para narasumber serta peserta, Bang Dhin memastikan seluruh aspirasi tersebut akan diinventarisasi secara menyeluruh bersama pemerintah daerah.

​Ia menyadari bahwa membangun ekosistem kebudayaan yang tangguh bukanlah perkara instan, melainkan proses panjang yang menuntut kolaborasi kolektif dari skala terkecil.

​”Budaya yang ingin dibentuk dan disepakati tentu butuh banyak usaha. Upaya-upaya yang bisa dilakukan dimulai dari skala yang kecil terlebih dahulu, yakni dari mindset. Bagaimana merukunkan dan memfasilitasi para pelaku seni dan budaya agar bisa dilirik serta tersambung langsung dengan pemerintah,” pungkasnya.

Author