Oleh Puja Mandela
Saya percaya satu hal klise: jika tidak mengalami pembaruan, budaya tradisional akan makin ditinggalkan oleh generasi muda kita. Inovasi budaya, dengan beragam caranya, membuka lebih banyak kemungkinan untuk memperpanjang napas kebudayaan.
Primitive Monkey Noose (PMN) adalah salah satu dari sedikit band yang telah melakukan inovasi itu. Mereka membawa panting, alat musik tradisional Banjar, ke skena punk rock. Panting tak hanya menjadi lipstik, tetapi diberi ruang untuk bereksplorasi. Oleh PMN, panting bahkan diposisikan sejajar dengan raungan gitar elektrik.
Namun, yang lebih penting, karya-karya PMN bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya penikmat musik punk, rock, atau anak-anak skena. Jumlah penayangan video mereka di YouTube, angka streaming di Spotify, dan antusiasme penonton saat menyanyikan “Kada Kawa Kawan Ai” mengindikasikan bahwa musik PMN memiliki daya tarik yang lebih luas.
Baru-baru ini, Pemprov Kalsel memberikan Anugerah Kebudayaan kategori Pembaharu kepada Richy Petroza. Penghargaan yang patut disyukuri dan layak dibanggakan, meski saya yakin ketika membentuk PMN pada 2021, Richy tidak pernah menjadikan penghargaan semacam itu sebagai tujuan utamanya.
Saya kira, PMN lahir dari kegelisahan Richy yang ingin menghadirkan sesuatu yang baru setelah lama bergulat di skena underground. Dari kegelisahan itu pula, konsep “Banjar Punk” menemukan bentuknya. Beruntung, ide-ide kreatif Richy mendapat dukungan dari Prima Yuda Prawira, produser muda asal Batulicin yang saat itu baru saja selesai memproduksi lagu “Logika” bersama band pop Uniqly.
Pada Maret 2022, PMN merilis album perdana bertajuk Self Titled yang berisi lima lagu. Salah satunya adalah “Mahadang Ading”, karya Fadly Zour. Album itu terdengar agresif, dengan raungan gitar yang berpadu dengan bebunyian panting. Melalui perpaduan tersebut, PMN mulai unjuk gigi dengan membawa semangat kebudayaan dan persoalan sosial ke dalam musik punk rock mereka.
Kenapa panting?
Jauh sebelum membentuk PMN, Richy sudah melihat panting sebagai alat musik tradisional yang potensial untuk dijadikan “sesuatu” yang lebih menarik. Meski secara teknis produksinya tidak mudah, ia dan kawan-kawannya di PMN berhasil mewujudkan gagasan itu. Richy pernah menyebut bahwa tanpa panting, Primitive Monkey Noose hanya akan menjadi band punk biasa.
Richy tidak hanya serius menggarap musik PMN, tetapi juga mengemas band itu dalam paket yang komplet. Ia merancang sampul album bergambar bekantan sebagai simbol kebudayaan, membuat merchandise, dan mencetak rilisan fisik album dalam bentuk kaset pita serta CD. Bagi saya, keseriusan semacam ini merupakan sesuatu yang belum pernah dilakukan musisi dari Batulicin.
Sejak itu, pengaruh Richy di skena musik Tanah Bumbu makin kuat. Saya ingat satu momen ketika ia mengolok-olok kelompok musik yang feed Instagram-nya berisi foto-foto personel band bersama pasangan pengantin. Sebelum Richy “menyerang”, foto-foto semacam itu memang menjadi salah satu standar band laku di Batulicin. Meski agak intimidatif, kritiknya berhasil mengubah cara berpikir sejumlah band pada masa itu. “Ngapain nge-post foto sama pengantin di Instagram?” begitu katanya.
Tak semua musisi menerima. Tak semua orang siap dengan cara berpikir yang ia tawarkan. Namun, begitulah Richy. Ia bicara apa adanya demi kemajuan skena musik Tanah Bumbu yang saat itu belum terlalu bergairah. Kehadiran PMN dengan konsep Banjar Punk dan gagasan sosial budaya yang mereka bawa berhasil memantik semangat musisi lain untuk berkarya, termasuk saya sendiri. Kalau bukan karena Richy yang bilang, “Musisi kok nggak punya karya sendiri,” barangkali sampai hari ini saya pun belum kepikiran untuk menulis lagu sendiri.
Saya kira, penghargaan kategori Pembaharu memang pantas diberikan kepada Richy Petroza dan Primitive Monkey Noose. Mereka bukan hanya menghadirkan bebunyian baru melalui perpaduan panting dan punk rock, tetapi juga menularkan semangat berkarya kepada musisi lain. Pengaruh itu setidaknya sudah terasa di Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan. Penampilan mereka di Synchronize Fest pada 2023 juga memperlihatkan bahwa PMN memiliki narasi budaya yang menarik dan para personelnya mempunyai kemampuan musikal yang mumpuni.
Namun, pada posisinya saat ini, Primitive Monkey Noose justru harus bekerja lebih keras untuk keluar dari label band skena, menghindari pola musikal yang begitu-begitu saja, dan memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas. Ini tentu bukan pekerjaan sederhana. Strategi politik musik yang selama ini dijalankan Richy di Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan perlu dibawa ke ruang yang lebih luas. Bukan hanya untuk mempertahankan identitas PMN, melainkan juga untuk memperkenalkan gagasan di balik musik mereka kepada lebih banyak orang. Dengan begitu, “suara punk Banjar dari tenggara” bisa terdengar sampai ke telinganya Soleh Solehun. Eh, maksud saya, ke telinga seluruh rakyat Indonesia.




