INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Iput Syarafuddin, mantan Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin, merilis novel “Patah Hati Tan Malaka”. Lewat novel ini, dia ingin memperkenalkan sejarah dan pemikiran tokoh kiri Indonesia itu ke generasi muda.

Di Red Lane Cafe, Gedung Batas Kota Banjarmasin, Selasa 30 Juni 2026, didukung Batas Kota TV dan Ruang Sastra Banua, Iput bercerita di hadapan anggota LPM Sukma dan peserta bedah buku lainnya, kenapa dia memilih Tan Malaka.

Ketertarikannya pada tokoh kelahiran Pandam Gadang, Sumatera Barat itu berawal ketika buku-buku Tan Malaka dan narasi tentangnya belum menjadi budaya pop seperti hari ini.

“Saya ingat ketika pertama kali mengenal pemikiran Tan Malaka. Saat itu buku-bukunya sangat sulit ditemukan. Kalaupun ada, bahasanya menggunakan gaya lama, sehingga tidak mudah dipahami. Selain itu, buku-buku tentang Tan Malaka juga tidak sepopuler tokoh-tokoh lain seperti Mohammad Hatta atau Sutan Sjahrir. Akibatnya, banyak orang belum mengenal gagasan-gagasannya,” jelasnya.

Ia kemudian mengenang masa-masa ketika bersama teman-temannya memburu segala hal tentang Datuk Sutan Malaka. “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” menjadi buku pertama yang ia temukan.

Iput menilai tidak semua orang memiliki kesempatan membaca karya sejarah atau mengikuti diskusi sejarah secara intensif. Karena alasan itulah, ia ingin menghadirkan sebuah karya yang bisa menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal Tan Malaka lebih dekat.

“Di dalamnya saya berusaha menyajikan sejarah perjuangan, merangkum pokok-pokok pemikirannya, dan menyederhanakan bahasa agar lebih mudah dipahami,” katanya.

Ia menegaskan bahwa novel “Patah Hati Tan Malaka” bukanlah karya sejarah akademis.
“Karya sejarah memiliki metodologi penelitian yang sangat ketat. Sementara dalam novel ini, saya memadukan unsur sejarah dan fiksi. Tujuannya bukan menggantikan buku sejarah, melainkan menjadi pintu masuk bagi pembaca yang ingin mengenal Tan Malaka sebelum membaca karya-karya yang lebih mendalam,” ucap Iput.

Iput menulis “Patah Hati Tan Malaka” selama tujuh minggu. Relatif singkat. Namun, menurut dia, hal itu tidak menggambarkan keseluruhan perjalanan kreatifnya.

“Proses penulisannya memang sekitar tujuh minggu, tetapi proses belajarnya sudah berlangsung jauh lebih lama,” ungkapnya.

Dalam prosesnya, ia membagi waktu selama tiga bulan. Bulan pertama digunakan untuk riset, sisanya difokuskan pada penulisan. Setelah seluruh proses selesai, ia mengalami kelelahan luar biasa, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk menyelesaikan naskah.

Iput menyebut disiplin menjadi kunci utama. Berbeda dengan sebagian penulis yang membutuhkan musik atau suasana tertentu, Iput justru menulis dalam situasi sunyi.

“Kalau ditanya apa yang paling berhasil untuk saya, jawabannya adalah menyediakan waktu atau target menulis setiap hari. Dengan begitu, saya tetap disiplin dan tahu apa yang harus diselesaikan,” jelasnya.

Tantangan terbesar yang dialami Iput justru muncul ketika harus menentukan batas antara fakta sejarah dan imajinasi. Sebagai wartawan, ia terbiasa bekerja dengan prinsip verifikasi, tapi sebagai novelis, ia harus memberi ruang bagi kebutuhan artistik.

Sempat khawwtir melanggar batas antara sejarah dan fiksi, akhirnya dia meminta nasihat kepada seseorang yang dihormatinya.

“Beliau berkata, ‘Jebol saja batasnya.’ Maksudnya, batas antara sejarah dan fiksi itu jangan terlalu dikekang. Setelah mendengar itu, saya mulai berani melangkah,” cerita Iput.

Meski demikian, ia menetapkan dua aturan penting. Pertama, ketika terjadi benturan antara fakta sejarah dan kebutuhan artistik, Iput memilih kepentingan novel. Kedua, ia tidak pernah mengarang pemikiran Tan Malaka.

“Gagasan, pandangan, dan pemikirannya tetap saya ambil dari sumber-sumber yang memang berasal dari beliau (Tan Malaka),” kata Iput.

Ruang fiksi, menurut Iput, lebih banyak ditempatkan pada kehidupan pribadi Tan Malaka yang selama ini hanya sedikit tercatat dalam berbagai biografi. Celah-celah itulah yang dia isi melalui imajinasi untuk menghadirkan sosok Tan Malaka yang lebih utuh sebagai seorang manusia.

“Melalui fiksi, kita bisa membayangkan bahwa Tan Malaka juga pernah merasa takut, sedih, jatuh cinta, dan mengalami pergulatan sebagai manusia. Sisi-sisi itu hampir tidak kita temukan ketika membaca ‘Madilog’, ‘Aksi Massa’, atau karya-karya lainnya,” ujarnya.

Bagi Iput, itulah kekuatan sastra yang sejak lama dipelajarinya dari Sandi Firly dan Randu Alamsyah, yakni menghadirkan sejarah tanpa kehilangan denyut kemanusiaannya.

Melalui novel “Patah Hati Tan Malaka”, Iput berharap pembaca tidak berhenti pada novel tersebut, tetapi juga terdorong menelusuri lebih jauh pemikiran Tan Malaka melalui karya-karya sejarah yang lebih lengkap.

Penulis: Rahim Arza
Editor: Puja Mandela

Author