INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Hujan yang sempat mengguyur Banjarmasin, Senin (26/10), membuat kabut asap sedikit berkurang. Warga pun berharap hujan kembali turun agar udara bersih dapat bertahan lebih lama.

Berdasarkan pantauan, dalam dua hari terakhir langit Kota Banjarmasin sempat terlihat sedikit lebih cerah, khususnya pada pagi hingga menjelang siang hari.

Meski demikian, kualitas udara masih tergolong tidak sehat. Berdasarkan pantauan IQAir pada Rabu (28/10) pukul 07.00 Wita, indeks kualitas udara (AQI) berada di angka 172 dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 sebesar 86 mikrogram per meter kubik.

Sehari sebelumnya, Selasa (27/10) pukul 09.00 Wita, IQAir mencatat AQI Banjarmasin mencapai 184 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 102 mikrogram per meter kubik.

Meski kualitas udara masih belum membaik sepenuhnya, Yani (57), warga AMD Permai, bersyukur karena hujan sempat mengguyur kota tersebut setelah hampir tiga bulan mengalami cuaca kering.

“Habis hujan, kabutnya enggak setebal kemarin,” tuturnya.

Ia berharap hujan kembali turun. Selain membantu mengurangi kabut asap, hujan juga dapat membuat udara terasa lebih nyaman setelah cuaca panas.

“Kalau panas tuh begawian (bekerja) jua jadinya kada nyaman (tidak nyaman),” keluhnya.

Harapan warga tersebut sejalan dengan upaya pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas. Setelah pesawat TNI Angkatan Udara (AU) melakukan penyemaian pada Minggu (25/10), hujan dilaporkan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, mengatakan penyemaian dilakukan setelah BMKG menganalisis adanya peningkatan potensi hujan.

“Ini jawaban atas ikhtiar dan sinergi kita bersama di lapangan,” ujarnya.

Hilman menyebut Lanud Sjamsudin Noor akan terus melakukan penyemaian selama upaya penanganan karhutla masih diperlukan.

“Harapannya bisa mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, karhutla masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Selatan. Berdasarkan data BPBD Kalsel per Rabu (28/10), total kejadian karhutla tercatat mencapai 5.586 kejadian dengan luas lahan terdampak hingga 28.839 hektare. Sementara itu, jumlah titik panas (hotspot) tercatat mencapai 53.867 titik.

Editor: Zulfikar

Author