INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Suatu malam, seseorang membuka TikTok hanya untuk mencari hiburan. Beberapa menit kemudian, berandanya dipenuhi video tentang kelelahan bekerja, krisis seperempat abad, dan rasa cemas menghadapi masa depan.
Ia terdiam sejenak.
“Kok tahu banget, ya?”
Kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas di kepala banyak orang. Entah saat membuka TikTok, Instagram, YouTube, Spotify, atau platform digital lainnya.
Semakin lama menggunakan internet, semakin sering muncul perasaan bahwa algoritma memahami diri kita lebih baik daripada orang-orang di sekitar.
Tentu saja algoritma tidak bisa membaca pikiran. Namun ia memiliki sesuatu yang bahkan tidak dimiliki teman terdekat: data.
Baca juga: Kenapa Banyak Orang Merasa Tua di Usia 25 Tahun?
Setiap hari, kita meninggalkan jejak digital dalam jumlah yang luar biasa besar. Video apa yang ditonton sampai habis, konten mana yang dilewati, lagu yang diputar berulang kali, akun yang sering dikunjungi, hingga jam berapa biasanya kita aktif.
Semua informasi itu dikumpulkan, dianalisis, lalu digunakan untuk menampilkan konten yang dianggap paling sesuai dengan minat kita.
Hasilnya sering kali mengejutkan.
Seseorang yang baru tertarik dengan fotografi akan mendapati berandanya penuh kamera dan tips editing. Orang yang sedang patah hati tiba-tiba melihat banyak kutipan galau. Mereka yang sedang mencari pekerjaan mulai dibanjiri konten karier dan motivasi.
Semakin lama digunakan, semakin akurat rekomendasinya.
Ironisnya, ada kalanya teman dekat justru tidak mengetahui hal-hal tersebut.
Tidak semua orang menceritakan keresahan, ketakutan, atau minat barunya kepada orang lain. Banyak yang memilih menyimpannya sendiri. Namun aktivitas digital sering kali mengungkap semuanya tanpa sadar.
Algoritma tidak tahu siapa kita sebagai manusia, tetapi ia sangat ahli mengenali pola perilaku.
Inilah yang membuat banyak orang merasa lebih “dipahami” oleh internet dibanding lingkungan sosialnya sendiri.
Fenomena ini melahirkan kebiasaan baru dalam kehidupan modern. Ketika merasa bosan, sedih, atau kesepian, sebagian orang tidak mencari teman untuk diajak bicara. Mereka membuka aplikasi.
Di sana selalu ada konten yang terasa relevan, menghibur, atau setidaknya membuat mereka merasa tidak sendirian.
Namun ada sisi lain yang jarang disadari.
Ketika algoritma terus-menerus menyajikan konten yang sesuai dengan minat dan keyakinan kita, ruang pandang bisa menjadi semakin sempit. Kita lebih sering melihat hal-hal yang ingin kita lihat, bukan hal-hal yang perlu kita ketahui.
Lama-kelamaan, internet berubah menjadi cermin yang terus memantulkan diri kita sendiri.
Di sinilah letak paradoksnya.
Semakin personal pengalaman digital yang kita dapatkan, semakin besar pula kemungkinan kita terjebak dalam dunia yang dirancang khusus untuk mempertahankan perhatian.
Karena pada akhirnya, algoritma tidak benar-benar peduli apakah kita bahagia, sedih, atau sedang mencari makna hidup. Ia hanya bekerja untuk membuat kita tetap bertahan lebih lama di platform.
Meski begitu, sulit untuk menyangkal kenyataan bahwa teknologi kini memainkan peran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam beberapa situasi, ia mengetahui kebiasaan kecil yang tidak pernah diperhatikan oleh orang-orang terdekat.
Mungkin itulah salah satu ciri khas kehidupan modern. Kita hidup di masa ketika mesin tidak mengenal nama panggilan masa kecil kita, tidak tahu cerita hidup kita secara utuh, tetapi mampu menebak video apa yang akan kita tonton berikutnya dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.
Dan kadang-kadang, itu terasa sedikit terlalu dekat.





