INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Di era digital sekarang, algoritma perlahan menjadi “teman” yang paling sering bersama kita. Ia melihat apa yang kita tonton diam-diam, apa yang kita sukai, berapa lama kita berhenti scrolling, bahkan jam berapa kita biasanya merasa bosan atau kesepian.
Hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak diketahui teman dekat sendiri.
Dulu, manusia mengenal seseorang lewat obrolan panjang, kebiasaan, atau waktu bersama. Sekarang, platform digital mempelajari manusia lewat data.
Semakin lama kita online, semakin akurat algoritma membaca pola hidup kita.
Ia tahu jenis humor yang membuat kita tertawa. Tahu lagu seperti apa yang kemungkinan kita putar berulang kali. Bahkan tahu video mana yang cukup kuat membuat kita berhenti scrolling beberapa detik lebih lama.
Masalahnya, semua itu membuat internet terasa sangat personal.
Baca juga: WPAP, Seni Pop Geometris Asal Indonesia yang Mendunia
Beranda media sosial kini bukan lagi ruang acak. Semuanya sudah disesuaikan agar cocok dengan emosi dan kebiasaan masing-masing pengguna. Karena itu, dua orang yang membuka aplikasi yang sama bisa hidup di “dunia digital” yang sangat berbeda.
Fenomena ini membuat banyak orang tanpa sadar semakin nyaman berada di internet dibanding dunia nyata.
Di media sosial, kita selalu disuguhi hal-hal yang sesuai selera. Sementara di kehidupan nyata, manusia tidak bekerja seperti algoritma. Obrolan bisa membosankan, suasana bisa canggung, dan hubungan tidak selalu memberi validasi instan.
Akibatnya, muncul kebiasaan baru: mencari kenyamanan emosional lewat layar.
Tidak sedikit orang sekarang merasa lebih “dipahami” oleh beranda TikTok dibanding lingkungannya sendiri. Kalimat seperti:
“FYP gue ngerti banget hidup gue.”
Terdengar seperti candaan, tetapi diam-diam terasa nyata bagi banyak orang.
Di sisi lain, algoritma sebenarnya tidak benar-benar memahami manusia. Ia hanya membaca pola. Semua rekomendasi muncul bukan karena peduli, tetapi karena sistem ingin kita bertahan lebih lama di aplikasi.
Semakin lama kita menonton, semakin besar keuntungan platform.
Namun ironisnya, hubungan manusia dengan teknologi kini terasa semakin emosional. Banyak orang membuka media sosial bukan untuk mencari informasi, tetapi untuk merasa ditemani.
Mungkin itulah wajah baru kehidupan modern: ketika manusia mulai merasa lebih dimengerti oleh mesin yang membaca kebiasaan mereka, dibanding orang-orang yang benar-benar ada di sekitar.





