INTERAKSI.CO, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menilai proses pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Pemerintah memperkirakan pemulihan penuh baru dapat tercapai dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan Dody saat memberikan keterangan kepada media dalam taklimat perkembangan penanganan bencana di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa secara optimistis pemulihan dapat selesai dalam dua tahun, namun pemerintah menyiapkan perencanaan hingga tiga tahun untuk memastikan seluruh proses berjalan tuntas.
Baca juga: Presiden Prabowo Koreksi Desain IKN, Fokus Atasi Panas dan Antisipasi Karhutla
Menurut Dody, lamanya waktu pemulihan dipengaruhi oleh banyaknya infrastruktur yang terdampak, mulai dari jalan, jembatan, hingga sistem sumber daya air. Sejumlah pekerjaan fisik memerlukan waktu lama karena tidak bisa dilakukan secara instan.
Ia mencontohkan pembangunan sabo dam dan cek dam yang harus dilakukan secara bertahap. Selain itu, perbaikan ruas Tarutung menuju Sibolga serta pemulihan Jalan Tol Lembah Anai juga membutuhkan waktu yang cukup panjang, bahkan diperkirakan mencapai satu hingga dua tahun.
Dody menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas normal, khususnya dengan membuka akses wilayah yang sempat terisolasi akibat bencana.
Ia menekankan bahwa tidak boleh ada desa yang terputus aksesnya. Oleh karena itu, pembukaan konektivitas menjadi fokus utama pada tahap awal pemulihan.
Seiring berjalannya waktu, perbaikan jalan dan jembatan nasional terus menunjukkan progres. Berdasarkan laporan terbaru pada hari ke lima puluh dua pascabencana, seluruh jalan dan jembatan nasional yang terdampak telah kembali berfungsi secara fungsional.
Tercatat sebanyak 99 ruas jalan nasional dan 33 jembatan nasional sebelumnya mengalami kerusakan atau terputus. Kini seluruhnya sudah dapat dilalui, meski sebagian masih menggunakan konstruksi sementara.
Meski demikian, tantangan terbesar justru berada di tingkat daerah. Dody menyebut masih terdapat ribuan infrastruktur daerah yang belum tertangani sepenuhnya.
Saat ini pemerintah masih memfokuskan perhatian pada jalan dan jembatan kabupaten serta desa. Tercatat sekitar dua ribu ruas jalan dan jembatan daerah masih dalam kondisi terputus atau rusak berat.
Secara keseluruhan, infrastruktur daerah yang terdampak bencana mencapai 2.710 unit, terdiri dari sekitar 1.900 ruas jalan daerah dan 753 jembatan daerah.
Hingga kini, sekitar 72 persen jalan daerah telah kembali berfungsi secara fungsional. Sementara itu, penanganan jembatan daerah masih terbatas, dengan capaian baru sekitar 12 persen.
Pemerintah memastikan proses pemulihan akan terus dipercepat secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan, kondisi geografis, serta ketersediaan anggaran agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal secara berkelanjutan.





