INTERAKSI.CO. Banjarbaru – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalsel mengatakan, cuaca panas terik beberapa hari terakhir di Kalsel dipengaruhi oleh faktor atmosfer regional, meski wilayah ini masih berada dalam periode musim hujan.

Forecaster Iklim BMKG Kalsel, Muhammad Agvi Septiarno menjelaskan, Kalimantan Selatan baru saja melewati puncak musim hujan. Namun, kondisi cuaca panas ekstrem tetap dapat terjadi akibat pengaruh dinamika cuaca skala besar.

“Secara klimatologis, Kalimantan Selatan memang baru melewati puncak musim hujan. Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir masyarakat merasakan suhu yang sangat panas dan terik,” ujarnya, Selasa (27/1/26).

Ia menyebut, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah pengaruh monsun Asia serta kemunculan bibit siklon tropis 91S dan 91P di wilayah Selatan Indonesia, khususnya di perairan sekitar selatan Pulau Jawa.

“Bibit siklon itu menyebabkan adanya penarikan uap air dari wilayah Kalimantan Selatan. Akibatnya, potensi pembentukan awan hujan berkurang dan cuaca menjadi lebih panas,” jelasnya.

Meski sempat terjadi hujan di beberapa wilayah, tetapi intensitasnya tidak signifikan sehingga hal itu membuat kondisi panas terasa lebih dominan.

“Bibit siklon kini mulai melemah dan menghilang. Dengan demikian, kondisi cuaca diperkirakan akan kembali normal dalam waktu dekat,” katanya.

Terkait prediksi musim, BMKG memperkirakan musim hujan di Kalimantan Selatan umumnya berakhir pada bulan April mendatang.

“La Nina saat ini masih lemah. Biasanya kondisi ini dapat menyebabkan curah hujan berada di atas rata-rata, sehingga kita tetap perlu memantau perkembangan ke depan,” ujarnya.

Disamping itu, BMKG juga mengimbau, masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat yang dapat terjadi dalam waktu singkat dan memicu bencana hidrometeorologi.

“Masyarakat diharapkan tetap waspada, khususnya jika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi lama, terutama di daerah rawan banjir, bantaran sungai, dan wilayah dengan kondisi tanah labil,” pungkasnya.

Author