INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Lab-Batang Banyu merupakan ruang laboratorium kreatif musik tradisi yang diinisiasi sebagai tempat bertemunya praktik seni, pengetahuan lokal, eksperimen bunyi, dan pengembangan gagasan lintas disiplin.

Berangkat dari istilah “batang banyu” yang dalam konteks masyarakat Banjar merujuk pada aliran sungai dan ruang kehidupan, program ini hadir sebagai upaya membaca kembali hubungan manusia dengan lingkungan, teknologi, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari melalui pendekatan seni.

Melalui format laboratorium, Lab-Batang Banyu tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang diskusi, riset artistik, penciptaan karya, hingga pengembangan instrumen dan metode kerja berbasis eksplorasi. Setiap seri dalam Lab-Batang Banyu akan membawa fokus dan pendekatan yang berbeda-beda, sesuai dengan isu, medium, maupun praktik artistik yang ingin dibedah bersama.

Seri Pandir #1 menjadi pembuka dari rangkaian tersebut dengan menghadirkan tema mengenai eksperimen bunyi, instrument building, dan pembacaan ulang terhadap teknologi keseharian masyarakat. Kata “pandir” sendiri dimaknai sebagai ruang percakapan dan pertukaran gagasan, di mana forum tidak hanya menjadi tempat presentasi karya, tetapi juga tempat berbagi proses, kegagalan, percobaan, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penciptaan musik.

Dalam sesi diskusi, Misbach menyoroti bahwa praktik instrument building bukan sekadar mengubah benda-benda yang tak terpikirkan menjadi alat musik. Lebih jauh, praktik ini dipahami sebagai proyek eksperimental yang berupaya menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penciptaan instrumen non-konvensional untuk kebutuhan pertunjukan.

Menurutnya, penciptaan bunyi harus berangkat dari kesadaran artistik yang kuat, bukan hanya memanfaatkan objek yang telah matang secara fungsi maupun estetika.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga akar tradisi sebagai kekuatan lokalitas di tengah perkembangan praktik seni eksperimental. Tradisi bukan diposisikan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan cara pandang dalam menciptakan bentuk-bentuk baru.

Dalam praktiknya, bunyi dapat lahir dari kebiasaan sehari-hari, dari benda-benda yang dekat dengan kehidupan masyarakat, hingga dari proses amplifikasi terhadap material sederhana yang sebelumnya dianggap biasa.

Gagasan tersebut menemukan resonansinya dalam presentasi proyek Tala Gumba, sebuah pengembangan instrumen yang merespons teknologi agraris masyarakat Banjar. Tala Gumba berangkat dari gumbaan, alat tradisional yang digunakan masyarakat untuk memilah kualitas benih padi.

Instrumen ini kemudian diterjemahkan ulang sebagai medium bunyi dan performativitas yang menghubungkan memori kolektif masyarakat Banjar dengan perkembangan teknologi musik kontemporer.

Melalui Tala Gumba, proses perakitan teknologi tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai upaya mengawinkan pengetahuan bunyi dengan sistem aplikasi digital dan pendekatan drumpad.

Proyek ini masih terus berada dalam tahap pengembangan, sehingga berbagai uji coba akan terus dilakukan untuk menyempurnakan karakter instrumen, mekanisme permainan, serta kemungkinan artistiknya di masa mendatang.

Arqam turut menyampaikan bahwa praktik musik sampah yang selama ini dijalankan akhirnya bukan hanya berbicara tentang musik semata. Lebih jauh, praktik tersebut menjadi bagian dari bagaimana pengetahuan seni, khususnya musik, dapat memberi dampak sosial yang baik bagi warga Teluk Kelayan. Musik hadir sebagai medium pendekatan sosial, ruang belajar bersama, hingga alat membangun kesadaran lingkungan dan kebersamaan masyarakat.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Surya Muda Tajuddin yang menyampaikan bahwa praktik-praktik musik yang berhubungan langsung dengan masyarakat menjadi poin penting sebagai gerakan untuk membuka ruang kesadaran terhadap lingkungan mereka sendiri.

Menurutnya, musik tidak hanya hadir sebagai tontonan atau hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium yang memiliki peran sosial dan nilai kebermanfaatan bagi kehidupan bersama. Ia juga berbagi pengalaman mengenai bagaimana musik pada akhirnya memberi ruang dan peran untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Vino dan Juli, mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan sekaligus musisi terpilih dalam proyek musik sampah, turut membagikan pengalaman mereka selama proses eksplorasi dan perakitan instrumen.

Mereka bercerita tentang berbagai kemungkinan bunyi yang muncul dari material-material sederhana dan bagaimana proses tersebut membuka cara pandang baru terhadap praktik penciptaan musik.

Bagi mereka, nilai paling penting dari proses ini bukan hanya terletak pada hasil musikal semata, tetapi pada bagaimana kegiatan tersebut mampu melatih anak-anak untuk terlibat secara kolektif dalam bermain musik.

Proses belajar bersama, saling mendengar, dan membangun bunyi secara kolektif menjadi pengalaman sosial dan artistik yang berharga bagi masyarakat.

Diskusi dalam Lab-Batang Banyu Seri Pandir #1 berlangsung cair dan berkembang ke berbagai arah pembicaraan. Para peserta tidak hanya membicarakan bunyi sebagai hasil akhir artistik, tetapi juga melihat bagaimana teknologi, tradisi, lingkungan, dan pengalaman hidup sehari-hari dapat menjadi sumber penting dalam praktik penciptaan seni hari ini.

Lab-Batang Banyu Seri Pandir #1 menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan bahwa praktik musik eksperimental tidak lahir secara terpisah dari kehidupan masyarakat. Melalui diskusi mengenai instrument building, teknologi bunyi, musik sampah, hingga eksplorasi instrumen Tala Gumba, forum ini menunjukkan bagaimana tradisi, lingkungan, teknologi, dan pengalaman keseharian dapat saling terhubung dalam proses penciptaan seni.

Berbagai gagasan yang berkembang dalam forum ini memperlihatkan bahwa bunyi bukan hanya persoalan artistik, tetapi juga bagian dari cara membaca realitas sosial dan membangun kesadaran bersama. Praktik-praktik yang dihadirkan dalam Lab-Batang Banyu Seri Pandir #1 menegaskan pentingnya menjaga akar lokalitas sambil terus membuka kemungkinan baru melalui eksperimen dan kolaborasi lintas pengetahuan.

Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi medium pendidikan, ruang kolektif, dan gerakan sosial yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Dari proses merakit instrumen, melibatkan anak-anak bermain musik secara bersama, hingga membangun kesadaran terhadap lingkungan, seluruh praktik yang hadir dalam forum ini menjadi bukti bahwa seni memiliki peran penting dalam menciptakan hubungan yang lebih baik antara manusia, lingkungan, dan komunitasnya.

Lab-Batang Banyu diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi praktik-praktik eksperimental yang berakar pada pengetahuan lokal, sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi lintas disiplin dalam membaca ulang hubungan manusia, bunyi, dan lingkungan di Kalimantan Selatan.
________
Lab Batang Banyu adalah Program laboratorium musik tradisi hasil inisiasi Komune dan Akaracita yang berfokus pada pembibitan dan pengembangan talenta musik. Melalui pendekatan berbasis proses, program ini menghadirkan ruang eksplorasi, riset, dan kolaborasi bagi komponis, musisi, penyanyi, serta pengarsip untuk mengembangkan praktik musik tradisi yang adaptif dan berkelanjutan. Lab-batang banyu juga terbuka terhadap praktik dan pengetahuan musik kontemporer dan musik lainnya yang masih memiliki irisan dengan musik tradisi.

Author