INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2010-an, hiburan pernah terasa jauh lebih sederhana.
Sebelum internet cepat, layanan streaming, dan game digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ada tiga hal yang hampir selalu hadir dalam masa kecil banyak orang Indonesia: kaset, DVD bajakan, dan rental PlayStation.
Ketiganya bukan sekadar media hiburan. Mereka adalah bagian dari sebuah budaya yang kini perlahan menghilang.
Baca juga: Lagu Lama yang Viral Lagi karena TikTok
Dulu, mendengarkan musik membutuhkan usaha yang berbeda. Orang membeli kaset di toko musik, meminjam dari teman, atau merekam lagu favorit dari radio.
Ada sensasi tersendiri saat membuka bungkus kaset baru, membaca lirik di sampulnya, lalu memutar lagu berulang kali hingga hafal setiap bagian.
Tidak ada tombol shuffle atau rekomendasi algoritma. Yang ada hanyalah kesabaran dan kedekatan dengan musik yang didengarkan.
Sementara itu, DVD bajakan menjadi simbol lain dari era hiburan yang lebih “fisik”. Hampir setiap sudut kota memiliki penjual DVD yang menawarkan film-film terbaru, serial televisi, anime, hingga konser musik dalam bentuk cakram.
Meski praktik tersebut jelas melanggar hak cipta, tidak bisa dimungkiri bahwa DVD bajakan pernah menjadi pintu utama masyarakat untuk mengakses hiburan global. Banyak orang mengenal film Hollywood, drama Asia, hingga anime Jepang melalui tumpukan DVD yang dibeli dengan harga murah.
Lalu ada rental PlayStation, tempat yang bagi banyak anak terasa seperti surga kecil setelah pulang sekolah.
Di sana, waktu berjalan berbeda. Satu jam terasa sangat singkat. Anak-anak berkumpul memainkan game sepak bola, balapan, gulat, atau petualangan sambil saling berteriak, bercanda, dan berkompetisi.
Bagi sebagian orang, rental PS bukan hanya tempat bermain. Ia juga menjadi ruang sosial. Pertemanan terbentuk, rivalitas lahir, dan banyak kenangan masa kecil tercipta di depan layar televisi tabung.
Hari ini, hampir semua hal tersebut bisa dilakukan dari rumah. Musik tersedia dalam hitungan detik. Film dapat ditonton kapan saja melalui layanan streaming. Game bisa diunduh langsung tanpa perlu keluar rumah.
Teknologi memang membuat semuanya lebih mudah. Namun, ada satu hal yang ikut hilang: pengalaman menunggu, berburu, dan berbagi.
Kaset mengajarkan kesabaran. DVD mengajarkan rasa penasaran terhadap dunia yang lebih luas. Rental PS menghadirkan interaksi sosial yang sulit digantikan oleh ruang digital.
Mungkin itulah sebabnya kenangan tentang kaset, DVD bajakan, dan rental PlayStation masih terasa hangat hingga sekarang. Bukan karena teknologinya lebih baik, melainkan karena ada cerita, pertemanan, dan pengalaman yang tumbuh bersamanya.
Pada akhirnya, yang dirindukan bukan benda-benda itu sendiri. Yang dirindukan adalah masa ketika hiburan terasa lebih sederhana, dan kebahagiaan bisa didapat hanya dengan beberapa ribu rupiah di kantong.





