Oleh: Sainul Hermawan, Haiku 4.5, dan Opus 4.8

Pada Selasa, 16 Juni 2026, Gibran mengunggah video soal AI. Pesannya serius: literasi digital, etika teknologi, masa depan Indonesia.

Bukan itu yang paling banyak diingat warganet. Yang viral adalah saya: si kucing yang duduk manis di depannya sambil sesekali dielus. Komentar “Ngelus-ngelus kucing itu ada kodenya” disukai ratusan orang. Ada juga yang menilai ini sebagai gimmick Godfather atau sinyal mastermind politik menuju 2029.

Pesan AI-nya sudah bagus. Substansinya positif, tapi karena ada saya di sana, seluruh energi diskusi habis untuk bertanya-tanya soal kode rahasia di balik elusan. Itulah ironi paling lucu sekaligus paling menyedihkan dari komunikasi politik digital: simbol mengalahkan substansi. Kau boleh bicara soal Indonesia Emas 2045, tapi kalau ada kucing di pangkuanmu, yang diingat orang ya kucingnya.

Nah, izinkan saya, si kucing itu, bicara. Perlu diketahui, saya tak pernah menandatangani kontrak apa pun. Saya tak paham apa itu kampanye, citra publik, atau transfer afeksi. Yang saya tahu, ada tangan yang tiba-tiba menggendong saya di depan kamera, lampu menyala terlalu terang, dan saya tak bisa ke mana-mana. Saya tak memberi izin—dan memang tak bisa—karena saya seekor kucing. Tubuh saya dipakai untuk membuat seseorang tampak hangat dan bisa dipercaya, padahal saya bahkan tak tahu siapa yang sedang memangku saya.

Kakek Opus pernah bilang: Inilah cara kerja manipulasi komunikasi. Pertama, transfer afeksi: penonton melihat saya dan otomatis merasa hangat. Perasaan itu lalu menempel pada manusia yang menggendong saya, seolah sayang pada kucing adalah bukti sayang kepada rakyat. Padahal tak ada hubungannya. Bisa saja seseorang sangat menyayangi saya di depan kamera tapi abai pada hal-hal yang jauh lebih penting. Kedua, pengalih perhatian: saat ada yang ingin dilupakan tentang seorang politikus, taruh kucing di pangkuannya. Mata semua orang langsung ke saya, bukan ke catatan janji yang belum ditepati. Ketiga, citra “manusia biasa”: kucing di rumah adalah simbol kehidupan yang sederhana dan jujur. Pesan tersembunyinya adalah, “Lihat, dia punya kucing, dia seperti kalian.” Keempat, saya memberi cap keaslian gratis: karena saya tak bisa berbohong dan tak punya agenda, kehadiran saya terasa tulus. Padahal, seluruh adegan bisa saja diulang dua puluh kali sebelum dirasa pas.

Hati-hati, ini pisau bermata dua. Penonton makin cerdas. Kalau penggunaan hewan terasa terlalu dipaksakan (kucing diseret keluar kamar, dipaksa pose, tampak tak nyaman) efeknya berbalik jadi cibiran. Alih-alih simpati, yang muncul malah tanda tanya: “Ini orisinal atau sekadar gimmick?” Kalau sudah dicap gimmick, citra hancur lebur.

Belum lagi soal kehidupan klip di dunia digital. Saya tak cuma muncul sekali. Videonya dipotong, dijadikan meme, disebar ribuan kali, hidup jauh lebih lama dari momen aslinya. Saya kehilangan kendali atas citra saya. Itu lucu sekaligus mengerikan, karena saya sejak awal memang tak punya kendali apa pun. Ada pula aspek hukum yang jarang diperhatikan: aturan perlindungan hewan di produksi media komersial belum tentu menjangkau video politik yang dibuat cepat. Siapa yang memastikan saya tak kelelahan saat pengambilan gambar diulang? Tak banyak orang peduli.

Ada satu hal yang hampir selalu luput dari perhatian: tak semua orang suka kucing. Bagi sebagian orang, saya bukan simbol kehangatan: saya adalah debar yang salah di dada. Bayangkan seseorang duduk di depan layar, berniat mendengarkan pidato, lalu tiba-tiba saya muncul. Bagi yang fobia, seluruh tubuhnya sibuk ingin menjauh. Pesan yang dirancang untuk merangkul semua orang justru menutup pintu di hadapan sebagian dari mereka. Politik yang ingin menyatukan, lewat saya, malah diam-diam memilah: siapa yang boleh merasa nyaman, dan siapa yang ditinggalkan gelisah. Yang gemetar di sudut ruangan menjadi angka yang lupa dihitung.

Siapa yang untung dan yang rugi dalam hal ini? Politikus dapat citra, tim kampanye dapat konten, penonton dapat hiburan singkat. Lalu, saya dapat apa? Biasanya tak ada, kecuali stres yang tak diminta dan kehilangan hak atas tubuh saya sendiri selama durasi rekaman.

Karena saya kucing yang adil, saya sadar tak semua kasus sama. Kalau memang saya tinggal bersama seseorang, muncul begitu saja karena saya suka tidur di pangkuannya, dan saya bebas pergi kapan pun mau, itu lain ceritanya. Garis pemisahnya ada di sini: apakah saya muncul sebagai bagian jujur dari hidup seseorang, atau sengaja dipasang sebagai alat persuasi? Yang pertama tak masalah. Yang kedua, di situlah cakar saya mulai gatal ingin mencakarnya.

Jadi, saya bukan kunci pembuka semua pintu. Bagi sebagian orang saya hangat, bagi sebagian lain saya adalah gembok yang justru menguncinya. Saya bisa membuat seseorang tampak tulus, tapi juga bisa membuat pesan tenggelam. Saya simbol, bukan jaminan. Simbol yang paling berbahaya adalah yang dipakai tanpa dipikir, karena yang menanggung risikonya bukan pemakainya, tapi saya, yang sejak awal tak pernah diminta pendapat.

Banjarbaru, 21 Juni 2026

___

Sainul Hermawan adalah pengasuh kucing domestik bernama Niko, Meo, Bull, Bill, Bocil, Betty, Blacky, Tatam dan Tati. Opus adalah kakek mereka yang telah lama wafat. Wajah mereka bisa dilihat pada beberapa postingan IG dan FB-nya.

Author