Oleh Puja Mandela

Kawan saya berasal dari keluarga besar kepolisian. Dua kakak sepupunya polisi. Om dan buleknya polisi. Mbahnya pensiunan polisi. Tapi ia yang tinggal terpisah jauh dari keluarga besar itu tetap memilih putar balik kalau ada polisi yang menggelar razia kendaraan bermotor. Baru kemarin, ia tancap gas, buru-buru putar balik. Padahal, polisi-polisi itu tidak sedang menggelar razia. Mereka hanya sedang membagikan sembako.

Hubungan masyarakat kita dengan aparat kepolisian sering kali berada dalam posisi “benci tapi cinta”. Di satu sisi, kita butuh polisi untuk menegakkan hukum dan menjaga keamanan. Tapi di sisi lain, kita juga sebel, bahkan muak, dengan perilaku oknumnya. Dari kasus Pak Sambo hingga perkara terbaru yang menyeret mantan Kapolri LSP sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto, semuanya membuat rasa muak itu semakin bertumpuk kayak pakaian kotor yang belum dicuci.

Chester Campbell, seorang polisi senior yang bertugas di divisi intelijen dalam serial Peaky Blinders, adalah gambaran aparat yang licik, tak bisa dipercaya, sekaligus ambisius. Ia akrab dengan bisnis perjudian dan minuman keras, termasuk memiliki hubungan rumit dengan Tommy Shelby, pimpinan gangster asal Birmingham.

Kita mungkin sudah nggak terlalu kaget dengan karakter seperti Chester Campbell. Polisi yang seharusnya menjaga hukum justru memainkan peran yang tak jauh berbeda dari mafia. Sama-sama licik dan ambisius. Bedanya, Campbell adalah tokoh fiksi. Sementara dalam kehidupan nyata, kita kerap menemukan perkara yang membuat gambaran semacam itu terasa tidak terlalu jauh dari kenyataan.

Baca juga: Bukan Hanya tentang “Pirunduk”

Upaya reformasi kinerja polisi jelas tak mudah. Persoalannya bukan hanya tentang kinerja, sumber daya manusia, kesejahteraan atau mentalitas, tetapi juga soal sistem dan bagaimana polisi bisa tetap independen serta berintegritas ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan, mungkin, bisnis. Repotnya, perbaikan semacam ini terkesan tak pernah dilakukan secara serius.

Yang lebih sering muncul justru berita hiburan seperti hasil lembaga survei yang menyebut masyarakat puas dengan kinerja aparat kepolisian. Rumah Politik Indonesia, misalnya, menyebut 79,8 masyarakat Indonesia puas dengan kinerja Polri. Angka-angka itu kemudian menjadi bahan perdebatan di ruang publik.

Kalau kita ingin melihat tingkat kepercayaan publik terhadap aparat, sebenarnya nggak perlu repot pakai lembaga survei. Lihat saja berapa banyak pengendara yang putar balik saat ada razia. Lihat berapa banyak orang yang mencari informasi di grup-grup WhatsApp tentang titik-titik pelaksanaan razia dan jalan-jalan tikus yang mungkin bisa “menyelamatkan” mereka.

Atau coba luangkan waktu untuk mendengarkan lagu Slank berjudul “Polisi yang Baik Hati”. Seberapa jauh kita masih bisa percaya pada lirik lagu itu?

*

Penulis adalah wartawan biasa, kadang-kadang dikira musisi.

Author