INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Komunitas Arkalitera akan menggelar Arkais Festival 2026 pada 28-30 September 2026 di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Festival tahun ini mengangkat tema “Mardahika, 1945-1950: Merawat Ingatan, Menulis Kepahlawanan.” Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra Kementerian Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, komunitas sastra memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem sastra Indonesia.

Baca juga: WSFest 2026 Angkat Tema Rakat, Sastra Banjarbaru Suarakan Kepedulian di Tengah Kabut Asap

Menurutnya, komunitas menjadi ruang pertemuan antara karya dan pembaca, sekaligus tempat tumbuhnya penulis dan berkembangnya wacana sastra.

“Komunitas sastra yang ada di berbagai penjuru Indonesia adalah penggerak utama ekosistem sastra, penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, serta wadah berkembangnya ragam wacana sastra,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra dengan mendorong komunitas sastra di berbagai daerah agar terus tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” tambahnya.

Arkais Festival 2026 akan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari diskusi publik, diskusi buku, pembacaan puisi, monolog, kelas penulisan hingga apresiasi karya.

Selama tiga hari pelaksanaan, festival melibatkan sastrawan, penulis, peneliti, serta pegiat sastra.

Pada hari pertama, rangkaian kegiatan menghadirkan Kiara Fazea dan Ahmad Zaini dalam sesi Karasmin. Agenda dilanjutkan dengan Nyata Publik bertajuk “Kepahlawanan dan Ingatan Lokal: Karya-karya Mas Husaini Maratus dan Perjuangannya” bersama H.M. Yatrin Mas Husaini, Micky Hidayat, Ali Syamsudin Arsi, dan JH. Tanujaya.

Hari pertama juga diisi diskusi buku bersama Dadang Ari Murtono, Sandi Firly, Rie Arshaka, dan Musa Bastara. Peserta kemudian mengikuti kelas penulisan Mata Cerpen bersama Sandi Firly.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi buku bersama Nailiya Nikmah, Sainul Hermawan, dan Nada Kamilah. Ada pula sesi Karasmin bersama Muh. Irwan Aprialdy serta kelas Mata Esai bersama Willy Alfarius.

Sesi Nyata Publik bertajuk “Tulisan Berbasis Data dan Sejarah” menghadirkan Arif Rahman Hakim, Budi Dayak Kurniawan, Iput Syarafuddin, dan Mihrab An-Nabawi.

Pada hari ketiga, diskusi buku menghadirkan Dadang Ari Murtono, H.E. Benyamine, Muhammad Daffa, dan Nada Kamilah. Kegiatan dilanjutkan dengan kelas Mata Puisi bersama Muh. Irwan Aprialdy.

Sesi Karasmin juga menghadirkan peserta Arkais Festival, Helman dan Mahfiah, bersama JH. Tanujaya dalam agenda dramatic reading dan pembacaan puisi.

Rangkaian festival kemudian ditutup melalui agenda Apresiasi Sastra dan Penutupan Arkais Festival. Dalam sesi tersebut, karya para peserta diserahkan kepada Arkalitera untuk proses lanjutan sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali karya Mas Husaini Maratus.

Pendaftaran peserta Arkais Festival 2026 dibuka secara terbatas. Peserta yang dapat mengikuti kegiatan berusia 12-35 tahun dan/atau belum menerbitkan lebih dari dua buku karya sendiri.

Peserta dapat memilih salah satu dari tiga kelas penulisan, yakni Mata Cerpen, Mata Esai, atau Mata Puisi.

Seluruh rangkaian kegiatan tidak dipungut biaya. Peserta juga akan mendapatkan satu buku sastra secara gratis.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui bit.ly/daftarArkaisFestival2026.

Author