INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Ukir Sejarah di Miss International Universal 2026, Dr. dr. Vina Ariesta Dewi, M.Pd., M.Biomed (AAM), Dipl, CIBTAC Ingin Kemenangannya Berdampak bagi Perempuan Indonesia terkhusus Kalsel.
Mengingat Vina merupakan masyarakat Banua. Ia memperkenalkan budaya Indonesia melalui penampilan tarian Dayak pada malam grand final.
Kemenangan di panggung internasional tidak selalu berakhir pada penyerahan mahkota. Bagi Vina, gelar juara Miss International Universal 2026 justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar yakni membawa pengaruh positif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Indonesia untuk pertama kalinya berhasil meraih mahkota Miss International Universal 2026 dalam ajang Mrs. International Global 2026 yang berlangsung pada 1–7 Oktober 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Vina. Namun, di balik kemenangan itu, ia merasa ada tanggung jawab moral yang harus dijalankan.
Hal itu pula yang mendasari keputusannya untuk tidak langsung menggelar perayaan kemenangan. Mengingat, Indonesia, khususnya Kalsel Oktober lalu sedang dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan banyak masyarakat terdampak. Karenanya, ia baru saja melaksanakan victory celebration, saat Karhutla mereda, atau sekitar satu bulan usai kemenangan yang diraihnya dalam ajang yang dilaksanakan di negara tetangga itu.
“Karena di Kalimantan Selatan mengalami karhutla dan banyak masyarakat terdampak, saya merasa memiliki beban moral untuk menunjukkan empati dan kepekaan terhadap kondisi masyarakat kita,” ujarnya dalam pers conference di Banjarbaru, Sabtu (7/11/2026) sore.
Bagi dr. Vina, kegiatan sosial bukan sesuatu yang baru dilakukan setelah mendapatkan gelar internasional. Ia mengaku telah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial sejak lama, bahkan pernah memenangkan ajang Putri Citra Indonesia pada 2010.
Keterlibatannya dalam berbagai kontes kecantikan sebutnya juga telah berlangsung sejak masa sekolah. Berbagai kompetisi di tingkat nasional hingga internasional menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya hingga berada di panggung dunia.
Menurut dia, seorang pemenang kontes kecantikan tidak cukup hanya mengandalkan paras. Kecerdasan, talenta, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, komitmen perempuan terhadap keluarga dan pemberdayaan masyarakat, serta keberanian, kemampuan membawa perubahan menjadi nilai yang tidak kalah penting.
“Menjadi pemenang tidak cukup hanya cantik, tetapi juga harus cerdas dan berani. Berani karena benar, serta berani membuat perubahan yang berdampak bagi banyak orang,” katanya.
Dalam ajang yang sama, wakil Indonesia ini juga berhasil membawa pulang penghargaan Winner Award Queen of Charity 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepedulian sosial, program kemanusiaan, serta kontribusi nyata dalam membantu masyarakat. Capaian tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Indonesia menuju kemenangan.
Vina menilai mahkota yang diraihnya bukan semata-mata hasil dari kualitas pribadi. Ada pengalaman panjang, proses belajar, dan berbagai perjalanan yang membentuk karakter serta kemampuannya untuk tampil sebagai salah satu yang terbaik.
“Saya sudah berkeliling Indonesia. Semua pengalaman itu membentuk saya. Prinsip saya harus bisa melakukan yang terbaik. Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang mencintai dan mendoakan saya. Karena itu, saya berusaha tetap tenang. Mungkin ketenangan itu menjadi salah satu modal saya,” tuturnya.
Lebih jauh, Vina ingin memaknai kemenangan tersebut melalui gagasan women in power. Baginya, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sosok berpengaruh, bukan hanya melalui pencapaian pribadi, tetapi juga melalui kontribusi sosial.
Ia meyakini ilmu pengetahuan dan pengalaman tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Keduanya perlu dibagikan agar memberikan manfaat lebih luas bagi orang lain.
“Perempuan harus bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya. Bagi saya, ilmu itu harus dibagikan agar menjadi jariyah,” ujarnya.
Dukungan terhadap pemberdayaan perempuan juga diwujudkan melalui perhatiannya kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya usaha yang dirintis perempuan Indonesia.
Ia ingin perempuan memiliki ruang untuk berkembang, mandiri secara ekonomi, serta berani menunjukkan kemampuan mereka.
Dampak lain yang mulai dirasakannya adalah banyak perempuan menghubungi dirinya untuk bertanya tentang cara mengikuti kontes kecantikan. Bagi Vina, pertanyaan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah pencapaian dapat membuka jalan dan menumbuhkan keberanian bagi orang lain untuk mencoba.
Karenanya ia mengajak perempuan Banua untuk tidak meragukan kemampuan diri ketika memiliki kesempatan untuk berkembang.
Setelah kemenangan ini, Vina menyadari tanggung jawabnya belum selesai. Ia justru memiliki pekerjaan baru, yakni mempersiapkan kontestan Indonesia berikutnya agar mampu melanjutkan prestasi di panggung internasional.
Ia berharap kemenangan pertama Indonesia di Miss International Universal 2026 tidak berhenti sebagai seremoni atau kebanggaan sesaat.
Baginya, ketika Indonesia mampu menjadi juara, hal itu menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memiliki karakter, kualitas, dan kapasitas yang layak diperhitungkan di tingkat dunia.
“Saya merasa bangga karena Indonesia bisa menorehkan prestasi di ajang internasional. Kemenangan ini jangan hanya menjadi seremoni. Harus ada sesuatu yang bisa kita lanjutkan dan berikan kepada masyarakat,” katanya.
Pada akhirnya, bagi Vina, mahkota mungkin menjadi simbol kemenangan. Namun, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa jauh kemenangan tersebut mampu menginspirasi, menggerakkan, dan membawa manfaat bagi orang lain.





