INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Kompak kenakan pakaian serba hitam, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM ULM dan GMNI menggelar aksi simbolik di depan gerbang keluar Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kamis malam (29/10).

Aksi digelar khusus untuk mengenang 10 relawan dari seluruh penjuru Indonesia yang meninggal saat turut andil dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kenang Relawan Gugur
Kenang Relawan yang Gugur, Mahasiswa Masih Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional. Foto: Interaksi/Soraya

Mengingat peristiwa karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan saja, melainkan sudah masif terjadi dan berdampak di beberapa daerah, bahkan di luar Kalimantan.

Rangkaian aksi dimulai dengan orasi. Di dalamnya, massa berkali-kali menyampaikan tuntutan terkait penanganan karhutla dan penghormatan terhadap para relawan yang gugur.

Di selingi dengan aksi pembacaan puisi oleh peserta aksi, Ifan salah satunya. Melalui puisinya yang berjudul “Negeri Haha-Hihi”, ia menyentil kondisi negeri yang makin ke sini dinilai semakin miris.

“Hujan emas di negeri orang, hujan emas di negeri sendiri. Lebih baik kita hujan-hujanan caci maki,” demikian salah satu penggalan puisi yang dibacakan Ifan.

Setelahnya, massa melakukan penaburan bunga di depan spanduk berisi potret para korban. Prosesi tersebut terasa haru lantaran diiringi lagu “Gugur Bunga”.

Rangkaian aksi kemudian ditutup dengan pembacaan doa untuk para relawan yang meninggal dalam penanganan karhutla.

Tuntut Karhutla Jadi Bencana Nasional

Koordinator aksi, Theo, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para relawan, tetapi juga bagian dari perjuangan mahasiswa untuk mendorong penetapan karhutla sebagai bencana nasional.

“Kita ingin perjuangan mereka (para relawan) tidak sia-sia. Kita ingin mereka dihargai di Indonesia,” ujar Theo.

Ia bersikeras, tuntutan tersebut masih terus disuarakan meskipun dampak karhutla seperti kabut asap di Banjarmasin dan sekitarnya mulai melandai.

“Masalahnya, teman-teman kita di Sumatera, di Papua, juga mengalami karhutla,” tegasnya.

Tidak hanya fokus ke relawan, ia juga menyoroti pentingnya pemulihan hak masyarakat yang terdampak karhutla. Begitu pula dengan pemulihan hutan serta pemenuhan hak masyarakat di bidang kesehatan juga perlu menjadi perhatian pemerintah.

“Apapun itu kita tetap menyuarakan karhutla sebagai ‘Bencana Nasional’,” gigihnya menerangkan.

Dukungan Demi Kelancaran Aksi

Di samping itu, dukungan turut hadir dari pihak civitas akademik ULM. Ditandai dengan kehadiran langsung Rektor ULM, Iwan Aflanie di tengah jalannya aksi simbolik tersebut.

Kenang Relawan Gugur
Kenang Relawan yang Gugur, Mahasiswa Masih Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional. Foto: Interaksi/Soraya

Apresiasi dilontarkannya terhadap massa yang sebagian besar datang dari kalangan mahasiswa. Baginya, kegiatan demikian menunjukkan bahwa mahasiswa masih memiliki kepedulian, terutama terhadap mereka yang gugur saat turun langsung menangani karhutla.

“Ini kegiatan yang positif. Kami juga sangat berterima kasih,” ujar Iwan.

Sementara itu, kepolisian melakukan pengamanan selama aksi berlangsung.

Kapolsek Banjarmasin Utara, AKP Sunardi, mengatakan pengamanan bertujuan untuk memastikan kegiatan mahasiswa berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

“Supaya aksi bisa berjalan lancar, aman, dan tentram sesuai dengan harapan,” ujar Kapolsek.

Sekitar 48 personel pun ditugaskan untuk melakukan pengamanan dalam aksi tersebut.

Mengulang Tuntutan yang Sama

Tuntutan penetapan karhutla sebagai bencana nasional sebelumnya juga telah disuarakan oleh mahasiswa Kalimantan di tingkat nasional.

Pada Rabu (28/10), enam perwakilan mahasiswa dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bertolak ke Jakarta. Mereka datang khusus untuk mengikuti aksi di Bundaran HI, bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda.

Aksi tersebut juga masih menyuarakan tuntutan yang sama. Desakan agar karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional.

Author