Oleh Puja Mandela

Kalau ada lagu berdurasi lebih dari lima menit yang tidak terasa membosankan, saya tak akan ragu menyebut “Timang”, karya terbaru Akaracita, kelompok musik kontemporer asal Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Lewat single keduanya, Akaracita seperti melemparkan kita ke masa lalu, saat kita yang masih anak-anak mendengarkan ibu melantunkan syair-syair lama berisi doa dan ucapan kasih sayang. Orang yang akrab dengan tradisi lisan masyarakat Banjar tentu tak asing dengan alunan nada yang dinyanyikan Intan Mutia, vokalis Akaracita.

Bunyi gamalan Novyandi Saputra terdengar teduh. Ia tak berupaya mendominasi setiap bagian. Gamalan itu seperti ketukan yang datang pelan-pelan, bergerak harmonis bersama synthesizer dari Marcelinus yang membuat suasana lagu sedikit gelap. Tiupan flute Rizky Auladi menambah kaya bebunyian, khususnya pada nada-nada tinggi. Setiap detik, setiap menit, alunan nadanya terus membelai, seperti seorang ibu yang sedang khusyuk mengelus-elus kepala anaknya.

Sebagai lagu Banjar kontemporer, saya kira ini sudah sangat kuat; liriknya mengutip tradisi lisan Banjar, alat musiknya menggunakan sarun dan gamalan, notasi dan vokal bergaya Melayu-Banjar, ditambah nama-nama pegiat kebudayaan yang ada di kelompok Akaracita. Siapa yang meragukan kontribusi pemuda bernama Novyandi Saputra dalam pengembangan kebudayaan Banjar hari ini?

Jika melihat ke luar, lagu Banjar yang terdengar umumnya hanya menggunakan lirik bahasa Banjar, sementara instrumen tradisionalnya tak menjadi highlight, sekadar tempelan, bahkan ada yang tak menggunakan sama sekali.Di sinilah Akaracita punya nilai lebih. Mereka tak sekadar menyanyikan lagu berbahasa Banjar, tetapi juga membawa narasi dan misi kebudayaan yang lebih besar dari sekadar niat ingin populer.

Baca juga: Akaracita, Jagau dan Jagoan Kebudayaan

Saya juga tak ragu menyebut “Timang” jauh lebih berhasil dibanding “Jagau”, yang penuh tabrakan bunyi dan nada-nada gamalan yang tak presisi serta produksi teknis yang tampaknya agak buru-buru. Tak ada kesan begitu di lagu ini. Bahkan, proses mixing-nya tampak dilakukan dengan hati-hati. Akhirnya, “Timang” tak hanya nyaman dijadikan teman tidur, tetapi juga sekaligus bisa menjawab pertanyaan: “Apa yang dimaksud dengan lagu Banjar?”

Seperti yang sudah saya sampaikan, “Timang” berhasil melemparkan saya ke pelukan ibu. Meski logat sehari-hari saya dominan bernada Jawa, saya dibesarkan oleh seorang ibu yang lahir dan besar di Desa Birayang, Hulu Sungai Tengah. Misi Akaracita untuk menghadirkan pengalaman keluarga itu saya kira cukup berhasil.

Satu-satunya hal yang saya agak tak setuju adalah ketika Akaracita menyebut “Timang” sebagai nyanyian sederhana. Secara teknis, nyanyiannya mungkin sederhana, tetapi sebuah lagu yang mampu melemparkan seseorang kembali ke masa lalu, mengingat kasih sayang ibu, kakek, nenek, dan siapa saja yang hidup pada masa ketika rumah kita di malam hari hanya diterangi lampu teplok bukanlah sesuatu yang sederhana.

*

Penulis adalah wartawan biasa, kadang-kadang dikira musisi. 

Author