INTERAKSI.CO, Banjarmasin – DPD Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kalimantan Selatan terus berupaya meningkatkan kualitas kompetisi bola basket melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) perangkat pertandingan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Penataran SDM Bola Basket Wilayah Kalimantan Selatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan ini diikuti 60 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan, termasuk peserta dari Kalimantan Tengah.

Penataran tersebut mencakup tiga bidang, yakni petugas meja (table official), petugas statistik, dan pengawas pertandingan. Dari total peserta, sebanyak 29 orang mengikuti penataran petugas meja, 20 orang petugas statistik, dan 11 orang pengawas pertandingan.

Sekretaris Umum DPD Perbasi Kalsel, Arif Rahman Hakim, mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari DPP Perbasi. Penilaian kelulusan peserta sepenuhnya diserahkan kepada tim penatar agar hasilnya objektif dan sesuai dengan kompetensi masing-masing.

“Penilaian kelulusan sepenuhnya diserahkan kepada tim penatar agar hasilnya objektif dan benar-benar mencerminkan kompetensi masing-masing peserta,” kata Arif setelah menutup kegiatan di Banjarmasin, Minggu (1/11/2026).

Menurut Arif, peningkatan kapasitas perangkat pertandingan merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem bola basket yang lebih profesional. Kompetensi petugas pertandingan dinilai berpengaruh langsung terhadap kualitas penyelenggaraan kompetisi.

Ia berharap peserta yang dinyatakan lulus nantinya mampu menjalankan tugas sesuai bidang masing-masing sehingga standar pertandingan bola basket di Kalimantan Selatan semakin baik.

“Harapan kami, peserta yang nantinya dinyatakan lulus benar-benar memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Dengan begitu, kualitas penyelenggaraan kompetisi dan pertandingan bola basket di banua semakin meningkat,” ujarnya.

Peserta penataran berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Kotabaru, Tanah Bumbu, Balangan, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, dan Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini juga diikuti peserta dari wilayah Kalimantan Tengah.

Arif menyebut penataran tersebut menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya Perbasi Kalsel menggelar peningkatan kapasitas secara khusus bagi pengawas pertandingan, petugas meja, dan petugas statistik.

Sebelumnya, kegiatan penataran lebih banyak menyasar bidang pelatih dan perangkat pertandingan lainnya. Melalui program ini, Perbasi Kalsel ingin memperluas pemerataan kompetensi SDM yang terlibat dalam penyelenggaraan pertandingan.

Penguatan perangkat pertandingan juga diharapkan berjalan beriringan dengan program peningkatan prestasi atlet serta standardisasi penyelenggaraan kejuaraan bola basket di daerah.

Komisioner Harus Kuasai Regulasi dan Komunikasi

Sementara itu, Bidang Pengawas Pertandingan DPP Perbasi, Achmad Nuryadi, yang menjadi salah satu pemateri, menekankan pentingnya pemahaman regulasi, etika, dan kemampuan komunikasi bagi seorang pengawas pertandingan atau komisioner.

Ia menjelaskan, komisioner memiliki tanggung jawab mengoordinasikan seluruh petugas meja untuk membantu wasit memastikan pertandingan berjalan sesuai ketentuan. Tugas tersebut berbeda dengan pekerjaan petugas meja yang secara langsung mencatat berbagai kejadian selama pertandingan.

“Yang kami tekankan adalah bagaimana menjadi komisioner yang baik, dilandasi pemahaman peraturan, etika, serta cara berkomunikasi dengan pemain, pelatih, wasit maupun sesama petugas pertandingan. Tugas komisioner adalah mengoordinasikan petugas meja, bukan mengambil alih pekerjaan mereka,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah. Mereka juga dilibatkan dalam diskusi dan pembahasan berbagai persoalan yang kerap ditemukan selama pertandingan.

Metode ini diterapkan agar peserta terbiasa menganalisis permasalahan dan menentukan penyelesaian berdasarkan regulasi yang berlaku.

Achmad mengaku antusiasme peserta selama tiga hari penataran cukup tinggi. Mereka aktif menyampaikan pengalaman, kendala, hingga kasus pertandingan untuk dibahas bersama.

Tim penatar juga menerapkan evaluasi melalui post-test dengan metode pertukaran soal. Peserta diminta menyusun pertanyaan yang kemudian dijawab oleh peserta lainnya.

Metode tersebut bertujuan mengasah kemampuan analisis sekaligus mengukur pemahaman peserta terhadap regulasi pertandingan.

Melalui penataran ini, Perbasi Kalsel berharap dapat melahirkan perangkat pertandingan yang kompeten dan profesional. Kesamaan standar pemahaman di antara petugas juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas kompetisi bola basket di Kalimantan Selatan sekaligus mendukung perkembangan prestasi atlet daerah.

Author