INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Rusia dan China menyampaikan kecaman keras terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Kedua negara menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang berpotensi memperparah ketegangan global.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan sinis yang bertentangan dengan norma moral dan hukum internasional.

Dalam pesan resmi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Putin juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Iran.

Ia menilai serangan tersebut sebagai langkah berbahaya yang dapat memicu bencana di kawasan Timur Tengah. Rusia menegaskan bahwa tindakan militer semacam ini berisiko memperluas konflik dan merusak stabilitas global.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahkan telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi guna membahas situasi pascaserangan.

Baca juga: Konflik AS dan Iran Memuncak Setelah Serangan Militer Terbuka

Hubungan Rusia dan Iran sendiri semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk melalui kemitraan strategis yang mencakup kerja sama militer.

China juga menyampaikan sikap serupa. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut serangan terhadap Iran tidak dapat diterima, terutama karena terjadi di tengah proses negosiasi internasional.

Ia menilai pembunuhan terhadap pemimpin negara berdaulat merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip kedaulatan dan stabilitas global.

Pemerintah China menyerukan penghentian segera tindakan militer dan meminta semua pihak kembali ke jalur dialog.

Selain itu, Beijing menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran.

Dampak konflik mulai terasa di berbagai sektor. Pemerintah China mengimbau warganya di Israel dan Iran untuk segera berpindah ke wilayah aman atau keluar melalui jalur darat.

Gangguan juga terjadi di sektor penerbangan. Cathay Group menghentikan sementara sejumlah rute ke Timur Tengah, termasuk penerbangan menuju Dubai dan Riyadh.

Maskapai lain juga mulai menyesuaikan rute demi menghindari wilayah konflik.

Situasi ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga mulai mempengaruhi mobilitas global dan stabilitas internasional.

Author