INTERAKSI.CO, Jakarta – Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa pemerintah Iran menolak tawaran mediasi dari sejumlah negara untuk meredakan konflik di Timur Tengah. Teheran menyatakan tidak akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis. Ia merespons pernyataan pemerintah Indonesia yang sebelumnya menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog guna meredakan ketegangan di kawasan.

Boroujerdi mengatakan Iran tidak lagi mempercayai proses negosiasi dengan Amerika Serikat karena pengalaman sebelumnya selalu berujung pada pelanggaran kesepakatan atau tindakan militer dari Washington.

Ia menjelaskan bahwa Iran setidaknya telah tiga kali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat, namun seluruhnya berakhir tanpa hasil.

Baca juga: Rudal Iran Hantam Langit Yerusalem, Sirine Meraung dan Warga Terluka

Negosiasi pertama berkaitan dengan kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2015 yang melibatkan Iran dan sejumlah negara besar dunia. Dalam perkembangan selanjutnya, Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.

Negosiasi kedua terjadi dalam lima putaran perundingan yang berlangsung pada 2025. Namun di tengah proses tersebut, Amerika Serikat justru melancarkan serangan terhadap Iran.

Sementara itu, upaya negosiasi ketiga dilakukan melalui mediasi Oman. Saat itu delegasi Iran dan Amerika Serikat tengah menjalani perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss.

Namun proses tersebut terhenti setelah pecah operasi militer antara kedua negara.

Menurut Boroujerdi, pengalaman tersebut membuat Iran tidak lagi membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat.

Ia menegaskan bahwa Iran akan terus melanjutkan konflik hingga mencapai apa yang disebutnya sebagai kemenangan bagi Iran.

Selain Indonesia, Rusia juga menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menawarkan diri sebagai perantara saat melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Melalui komunikasi tersebut, Putin menyampaikan kesiapan Rusia untuk membantu menyampaikan kekhawatiran Uni Emirat Arab kepada Iran terkait eskalasi konflik yang terjadi.

Author