INTERAKSI.CO, Batulicin — Tujuh pelajar duduk melingkar di Moru Coffee, Pasar Minggu, Kecamatan Simpang Empat, Sabtu (16/5/2026).

Mereka adalah pelajar SMP dan SMA yang mengirimkan karya tulis untuk buku antologi esai dan opini kepada Komunitas Rumah Pena. Meski hasil kurasinya belum diumumkan, tetapi Rumah Pena ingin memberikan apresiasi dan mengajak para pelajar tersebut ngopi, makan burger, sambil berdiskusi.

Dalam kelas tersebut, setiap draf dibedah satu per satu oleh jurnalis Puja Mandela. Fokus utama pembahasan tidak hanya soal teknik kepenulisan, tetapi juga cara berpikir, membangun argumen, hingga keberanian menulis dari pengalaman sendiri.

“Harus ada manusianya yang terlibat di dalam tulisan itu. Artinya, penulis harus hadir di situ. Jangan menulis yang sudah banyak orang tahu,” ujar penulis buku Tak Semua Hal Harus Masuk Akal tersebut.

Sebagian peserta datang dengan pengalaman menulis puisi dan cerpen. Sebagian lain bahkan baru pertama kali mencoba menulis opini. Meski memiliki pengalaman menulis yang berbeda, suasana diskusi berlangsung cair karena setiap peserta diberi ruang untuk menyampaikan gagasannya secara langsung.

Kailla, pelajar SMKN 2 Simpang Empat, mengaku esai yang ia tulis lahir dari keresahan pribadi. Ia juga sengaja menghindari gaya tulisan yang terlalu dipenuhi definisi agar tulisannya terasa lebih hidup dan tidak membosankan.

Meski beberapa naskah masih memerlukan penyempurnaan, Puja menilai kemampuan para pelajar tersebut sudah sangat baik untuk usia mereka. Ia meminta para peserta tidak menjadikan koreksi sebagai beban, melainkan sebagai proses belajar untuk memperkuat cara berpikir dan keterampilan menulis.

Setelah diskusi dan bedah tulisan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pendampingan langsung. Para pelajar memperbaiki draf mereka dan saling memberi masukan antarsesama peserta.

Arif Rachman, guru SMAN 1 Karang Bintang, menilai kelas kecil seperti itu justru penting karena membuat peserta lebih dekat dengan narasumber dan lebih leluasa berdiskusi.

“Ke depan kami akan kembangkan lagi, karena kami percaya kelas-kelas kecil seperti ini justru lebih efektif,” ucap Koordinator Bidang Pendidikan Rumah Pena itu.

Author