INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Setiap generasi tampaknya memiliki satu kalimat yang selalu diulang dari waktu ke waktu: “Musik zaman dulu lebih enak didengar.”

Kalimat ini bisa datang dari siapa saja. Orang yang tumbuh di era kaset akan merindukan lagu-lagu tahun 1980-an dan 1990-an. Mereka yang besar pada era CD akan menganggap musik awal 2000-an sebagai masa keemasan.

Bahkan generasi yang tumbuh bersama YouTube dan Spotify sekarang mulai mengatakan bahwa musik lima atau sepuluh tahun lalu terasa lebih baik dibanding lagu-lagu yang sedang populer saat ini.

Pertanyaannya, apakah musik dulu memang lebih bagus? Atau sebenarnya ada hal lain yang sedang bekerja di balik perasaan tersebut?

Baca juga: Konser Sekarang Bukan Lagi Tentang Musik

Salah satu jawabannya adalah nostalgia.

Manusia cenderung memiliki hubungan emosional yang kuat dengan musik yang mereka dengarkan pada masa-masa penting dalam hidup. Lagu yang menemani masa sekolah, perjalanan pertama bersama teman, atau kisah cinta pertama biasanya akan meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dibanding lagu yang didengar saat ini.

Karena itu, ketika seseorang mendengar lagu lama, yang muncul bukan hanya musiknya. Ia juga mengingat suasana, tempat, orang-orang, dan berbagai kenangan yang pernah menyertainya.

Akibatnya, lagu tersebut terasa lebih istimewa.

Ada juga faktor seleksi ingatan. Saat mengenang masa lalu, kita biasanya hanya mengingat lagu-lagu terbaik yang berhasil bertahan. Kita lupa bahwa pada setiap era sebenarnya juga ada banyak lagu biasa saja yang kini sudah tidak pernah diputar lagi.

Sementara musik masa kini masih berada dalam proses seleksi. Kita mendengar semua lagu yang dirilis, baik yang bagus maupun yang biasa-biasa saja. Karena itu, kesannya musik sekarang terasa kalah dibanding musik lama yang sudah melewati ujian waktu.

Di sisi lain, cara menikmati musik juga sudah berubah.

Dulu, seseorang mungkin mendengarkan satu album berulang kali karena hanya memiliki beberapa kaset atau CD. Mereka hafal lirik, mengenal setiap lagu, dan memiliki keterikatan yang lebih kuat dengan karya tersebut.

Sekarang, jutaan lagu tersedia dalam satu aplikasi. Pilihan yang terlalu banyak membuat orang lebih sering berpindah dari satu lagu ke lagu lain tanpa benar-benar membangun kedekatan emosional.

Selain itu, algoritma media sosial juga memengaruhi cara musik dikonsumsi. Banyak lagu modern dirancang agar menarik perhatian dalam beberapa detik pertama karena harus bersaing di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Akibatnya, sebagian orang merasa musik sekarang lebih fokus pada potongan yang viral dibanding pengalaman mendengarkan lagu secara utuh.

Namun bukan berarti musik masa kini lebih buruk.

Setiap zaman memiliki karakter dan tantangannya sendiri. Banyak musisi modern yang menghasilkan karya luar biasa, hanya saja mereka hidup di tengah banjir konten yang membuat perhatian pendengar semakin sulit dipertahankan.

Mungkin yang sebenarnya dirindukan bukanlah musiknya.

Yang dirindukan adalah masa ketika hidup terasa lebih sederhana, ketika lagu-lagu tertentu menjadi soundtrack dari momen-momen yang tidak akan terulang lagi.

Karena pada akhirnya, ketika seseorang berkata bahwa musik dulu lebih bagus, sering kali yang sedang ia bicarakan bukan kualitas musik semata. Ia sedang berbicara tentang kenangan.

Author