INTERAKSI.CO, Batulicin – Komunitas Rumah Pena menggelar diskusi bersama penulis dan pegiat literasi Tanah Bumbu untuk memperkuat kolaborasi serta mematangkan sejumlah program literasi daerah.

Kegiatan yang berlangsung santai dan penuh keakraban itu digelar di Kantor Sekretariat Rumah Pena, kawasan Pasar Minggu, Simpang Empat, Minggu (21/6/2026) siang.

Diskusi dihadiri berbagai komunitas literasi, di antaranya Dibalik Halaman dan Pejuang Literasi (Pelita) Tanah Bumbu. Selain itu, hadir pula guru, wartawan, penyiar radio, hingga pelaku usaha yang aktif menulis.

Baca juga: Dari Makassar ke Tanah Bumbu, Andi Utari Putri Membangun Komunitas Di Balik Halaman

Ketua Rumah Pena, Andrianto Mokodompit, melalui Sekretaris Puja Mandela menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari sejumlah kegiatan yang telah digelar sebelumnya.

“Yang pertama ada launching kantor yang dihadiri Pak Bupati, lalu ada talkshow literasi yang dihadiri ratusan peserta, dan saat ini kami sedang mempersiapkan launching buku Suara dari Tenggara,” katanya.

Dia mengatakan Rumah Pena membuka ruang kolaborasi bagi berbagai komunitas yang ingin mengembangkan kegiatan kepenulisan dan kebudayaan baca-tulis di Tanah Bumbu.

Kantor Rumah Pena juga dapat dimanfaatkan untuk penyelenggaraan kelas, diskusi, maupun kegiatan pengembangan kapasitas lainnya.

Rumah Pena, kata dia, berkomitmen menjadi fasilitator dengan menyediakan sarana dan prasarana guna mendukung tumbuhnya ekosistem literasi di Kabupaten Tanah Bumbu sesuai visi misi Bupati Andi Rudi Latif.

Salah satu agenda utama yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut adalah peluncuran buku “Suara dari Tenggara” yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli mendatang. Buku antologi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ruang kreatif dan apresiasi karya tulis di daerah.

Menyambut ajakan kolaborasi tersebut, Ilham Bahari dari Komunitas Pelita mengusulkan adanya program bersama yang dilaksanakan secara rutin melalui Rumah Pena. Program yang diusulkan antara lain pengembangan buku antologi hingga kompetisi debat bahasa Indonesia bagi kalangan pemuda.

Usulan itu mendapat sambutan positif dari Pengurus Rumah Pena Bidang Pendidikan, Arif Rachman. Berbekal pengalaman sebagai guru yang kerap membimbing siswa dalam lomba monolog dan debat, Arif menyatakan kesiapan untuk mendiskusikan program tersebut lebih lanjut melalui forum guru agar jangkauan pesertanya semakin luas.

Selain kegiatan kepenulisan, Oldra Karlinda, penyiar Jhonlin Radio, mengusulkan agar Rumah Pena memfasilitasi bidang kreatif lainnya, seperti kelas menggambar dan kegiatan seni yang dapat melibatkan lebih banyak kalangan.

Dari Komunitas Dibalik Halaman, Andi Utari Putri, menyampaikan komunitasnya siap menjalin kolaborasi kreatif bersama Rumah Pena. Apalagi di antara puluhan anggotanya juga memiliki minat besar di bidang kepenulisan.

Diskusi ditutup dengan pematangan konsep peluncuran buku Suara dari Tenggara. Para penulis sepakat agar kegiatan tersebut dikemas secara santai, tetapi tetap menarik, berkesan, dan mampu menghadirkan ruang pertemuan yang hangat bagi para penulis, pembaca, dan pegiat literasi.

Author