INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru mendorong penguatan edukasi pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) sejak usia sekolah melalui pelibatan guru dan tenaga pendidik.
Langkah ini dilakukan untuk membentuk kebiasaan makan sehat sekaligus mengenalkan pangan lokal sebagai alternatif sumber karbohidrat selain beras.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluhan Pola Konsumsi B2SA yang digelar di Aula UPT PPBAT Mentaos, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan guru dan tenaga pendidik dari 15 sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Banjarbaru.
Plt. Kepala DKP3 Kota Banjarbaru, Wiwien Robiaty, mengatakan penerapan pola konsumsi B2SA perlu mengutamakan potensi pangan lokal yang tersedia di sekitar masyarakat.
Berbagai bahan pangan, seperti jagung dan ubi kayu, dapat diolah menjadi alternatif makanan pokok untuk mendukung diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap beras.
“Pola konsumsi B2SA ini diutamakan pada potensi pangan lokal. Pangan lokal itu pangan yang ada di sekitar kita, bagaimana cara mengolah jagung dan ubi kayu menjadi pangan alternatif selain beras,” ujarnya.
Menurut Wiwien, diversifikasi pangan nasional membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Pengenalan pola makan sehat kepada generasi muda perlu diperkuat agar anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi, termasuk sayur dan buah.
“Kemudian sejalan dengan itu, dalam diversifikasi pangan nasional yang harus melibatkan sektor pendidikan, maka melalui generasi milenial saat ini perlu ada edukasi mengenai pola konsumsi makan sehat, makan enak, makan B2SA, suka sayur dan buah,” katanya.
Ia menegaskan, guru dan tenaga pendidik memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan konsumsi pangan sehat. Hal ini karena sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga lingkungan untuk membentuk perilaku dan kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih makanan.
“Sebagai tenaga kependidikan menjadi sangat strategis, di mana anak-anak kita menghabiskan banyak waktu di sekolah. Di sekolah mereka belajar, bermain dan juga membentuk kebiasaan makan atau pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman,” ucapnya.
Melalui bimtek tersebut, DKP3 Banjarbaru berharap para guru dan tenaga pendidik dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menyampaikan edukasi pangan sehat kepada siswa. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Selain mendorong kebiasaan makan sehat, pengenalan pangan lokal juga diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan sumber pangan yang tersedia di daerah. Dengan demikian, upaya diversifikasi pangan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga berkembang menjadi kebiasaan konsumsi masyarakat.
DKP3 Banjarbaru menilai penguatan edukasi B2SA sejak dini merupakan bagian dari upaya membangun budaya konsumsi pangan yang sehat, beragam, dan berbasis potensi lokal untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.





