Oleh Puja Mandela
Saya belum menonton “Pirunduk”. Bukan karena nggak mau, tapi waktunya saja yang belum cocok. Hingga tulisan ini ditayangkan, film horor yang mengambil latar budaya Banjar ini telah ditonton lebih dari 400 ribu kali di bioskop.
Beragam respons bermunculan. Ada yang suka. Ada yang tidak. Ada pula yang merespons dingin dan menyebut film horor sebagai cara aman untuk mengerek popularitas. Dalam musik populer, tak ada jaminan lagu bergenre pop yang bercerita tentang cinta dan patah hati akan mudah viral. Di Kalsel, banyak band pop yang jumlah pendengar bulanannya di Spotify bahkan tak mencapai seribu orang.
Sama saja dengan “Pirunduk”. Modal cerita horor saja sebenarnya tak cukup. Ada banyak faktor, dari kualitas produksi, jalan cerita, hingga strategi promosi yang efektif. Melibatkan para influencer dengan ratusan ribu pengikut sebagai pemeran pendukung, saya kira, merupakan keputusan yang oke. Sebab mereka bukan hanya tampil di layar, tetapi juga punya audiens sendiri yang bisa membantu memperluas jangkauan film ini.
Hal semacam ini, saya kira, belum banyak dilakukan di ranah musik dan sastra Kalsel. Sebagian pelakunya masih meyakini sebuah karya akan menemukan jalannya sendiri, menemukan pendengar atau pembacanya sendiri, meski tanpa promosi. Padahal, seperti yang kita lihat sekarang, tak banyak karya musik atau sastra yang menjadi bahan obrolan secara luas.
Saya membayangkan seorang musisi atau penulis baru saja merilis karya, tetapi satu minggu kemudian tak ada lagi orang yang membicarakan karyanya itu. Saya jadi ingat seorang kawan musisi pernah berkata, “Kita nggak tahu kapan lagu ini akan viral”. Ya, kalau tidak dipromosikan dengan strategi yang baik, saya juga nggak tahu kapan lagu itu akan populer.
Tapi, ngomong-ngomong, karya apa yang mungkin bisa digarap sineas Banua di luar genre horor dan percintaan?
Membuat adaptasi lokal “Peaky Blinders” dengan latar Kalimantan Selatan, lengkap dengan sosok gangster ala Tommy Shelby, mungkin bukan ide yang buruk.
*
Penulis adalah wartawan biasa, kadang-kadang dikira musisi





