INTERAKSI.CO, Jakarta – Badan Gizi Nasional memberikan insentif sebesar Rp6 juta per hari kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur program Makan Bergizi Gratis.

Kebijakan ini diberikan sebagai bentuk dukungan kepada mitra yang membangun dan mengelola fasilitas secara mandiri tanpa menggunakan dana APBN.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menjelaskan bahwa seluruh pembangunan dapur MBG dilakukan oleh mitra, mulai dari penyediaan lahan, perencanaan, konstruksi, hingga pengadaan peralatan. Dengan skema tersebut, mitra juga menanggung seluruh risiko operasional.

Risiko yang dimaksud tidak hanya terkait operasional sehari-hari, tetapi juga mencakup potensi bencana maupun kerusakan fasilitas.

Baca juga: BGN Wajibkan Label Harga dan Gizi pada Menu Makan Bergizi Gratis

Dadan mencontohkan terdapat dapur MBG di Aceh yang baru selesai dibangun namun terdampak banjir, serta fasilitas lain yang mengalami kebakaran.

Ia menegaskan bahwa insentif diberikan sebagai kompensasi atas investasi awal yang ditanggung mitra, termasuk biaya pemeliharaan, penyusutan bangunan dan peralatan, serta risiko yang muncul selama operasional.

Menurutnya, model pembangunan oleh mitra dinilai lebih efisien dibandingkan menggunakan mekanisme anggaran negara. Mitra cenderung membangun secara lebih hemat karena fasilitas tersebut menjadi milik mereka sendiri.

Selain efisiensi biaya, faktor kecepatan juga menjadi pertimbangan utama. Mitra mampu menyelesaikan pembangunan dapur MBG dalam waktu sekitar dua bulan.

Sebaliknya, jika pembangunan dilakukan melalui skema APBN, prosesnya bisa memakan waktu minimal lima bulan karena harus melalui tahapan perencanaan, survei, koordinasi lintas kementerian, hingga proses tender.

Skema kemitraan ini dinilai mampu mempercepat penyediaan fasilitas pemenuhan gizi bagi masyarakat sekaligus menjaga efisiensi anggaran negara.

BGN berharap pemberian insentif dapat menjaga keberlanjutan operasional dapur MBG serta memastikan program pemenuhan gizi berjalan optimal di berbagai daerah.

Author