INTERAKSI.CO, Teheran – Iran mulai melunak di tengah memanasnya konflik kawasan Teluk. Untuk pertama kalinya, Teheran menyatakan kesiapan membuka akses Selat Hormuz bagi Spanyol, sebuah langkah yang dinilai sebagai sinyal diplomasi di tengah tekanan internasional.
Pernyataan ini muncul setelah sikap pemerintah Spanyol yang tetap mendukung sanksi terhadap Iran, namun menolak terlibat dalam operasi militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel.
Perdana Menteri Pedro Sanchez bahkan melarang penggunaan pangkalan militer strategis negaranya untuk kepentingan serangan tersebut.
Baca juga: Mayoritas Warga Eropa Tolak Serangan AS–Israel terhadap Iran
Melalui pernyataan resmi, Iran menyebut Spanyol sebagai negara yang menghormati hukum internasional. Karena itu, Teheran membuka peluang bagi Madrid untuk mengajukan permintaan akses lintas kapal di jalur vital tersebut.
Langkah ini cukup mengejutkan, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling krusial di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair melintasi wilayah ini setiap hari. Gangguan kecil saja dapat langsung mengguncang harga energi dunia.
Tidak hanya Spanyol, beberapa negara lain seperti Thailand dan Malaysia juga dilaporkan telah memperoleh izin melintas, setelah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran.
Bahkan, menurut Donald Trump, Iran sempat mengizinkan sejumlah kapal tanker asing lewat sebagai bentuk “itikad baik” dalam proses negosiasi.
Namun di sisi lain, ketegangan masih terasa. Penutupan sebagian jalur di Selat Hormuz sebelumnya sempat menghambat distribusi energi global dan mendorong lonjakan harga minyak. Kondisi ini memicu kekhawatiran banyak negara terhadap stabilitas pasokan energi.
Menariknya, kebijakan Iran terhadap Spanyol justru memicu kebingungan di internal pemerintah Madrid.
Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares menegaskan bahwa negaranya tetap berada di garis dukungan terhadap sanksi internasional, termasuk sikap keras terhadap Garda Revolusi Iran.
Ia juga menekankan bahwa Spanyol mendorong semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. “Yang dibutuhkan saat ini adalah de-eskalasi dan negosiasi,” ujarnya.
Meski demikian, secara praktis dampak kebijakan ini terhadap Spanyol diperkirakan terbatas. Armada kapal dagang negara tersebut relatif kecil, dan sebagian besar beroperasi di bawah bendera asing.
Situasi ini menunjukkan satu hal penting: di tengah konflik yang memanas, jalur energi global tetap menjadi alat tawar paling strategis. Ketika akses dibuka atau ditutup, bukan hanya negara yang terdampak, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia.





