INTERAKSI.CO, Banjarbaru – Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026 kembali digelar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan membawa isu lingkungan dan kepedulian sosial sebagai bagian dari perayaan sastra. Memasuki tahun ketiga, festival sastra tahunan ini berlangsung pada 23-26 September 2026.
Tahun ini, WSFest mengangkat tema “Rakat”, yang dalam bahasa Banjar bermakna kedekatan, melekat, menempel atau menyatu. Tema tersebut dipilih untuk menggambarkan hubungan antarmanusia, terutama ketika menghadapi persoalan dan bencana yang terjadi di lingkungan sekitar.
Nuansa isu lingkungan bahkan sudah terlihat dari materi promosi WSFest 2026. Warna kuning kusam yang menyerupai suasana udara berkabut asap menjadi gambaran kondisi Kalimantan Selatan yang saat ini menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Direktur WSFest Hudan Nur mengatakan tema Rakat menjadi relevan dengan kondisi yang tengah dihadapi masyarakat. Menurutnya, berbagai bencana dan persoalan lingkungan dapat melahirkan kepedulian karena adanya rasa kedekatan secara emosional antarmanusia.
Baca juga: Tari Njipah Bawa Tabalong Jadi Juara Umum FKTD Kalsel, Melaju ke Panggung Nasional
“Kata Rakat terasa menjadi kontekstual di dalam kondisi negeri yang kini banyak dilanda bencana, seperti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, erupsi Anak Gunung Krakatau, termasuk juga kelangkaan BBM serta lainnya, yang kemudian menghadapi kondisi itu melahirkan beragam kepedulian banyak pihak,” jelas Hudan di Basecamp WSFest, Banjarbaru, Senin (21/9/2026).
Menurut penyair tersebut, rasa Rakat tidak hanya muncul karena kedekatan secara geografis, tetapi juga karena adanya ikatan emosional.
“Sebab, derita korban adalah derita kita semua,” ujarnya.
Hudan mengatakan berbagai bencana yang terjadi tidak terlepas dari persoalan keseimbangan alam. Karena itu, WSFest 2026 juga membawa semangat untuk bertahan dan melawan berbagai persoalan tersebut.
“Hancur, kembali tumbuh, bertahan, dan melawan,” kata Hudan, merujuk pada subtema yang diusung dalam festival tahun ini.
Hadirkan Sastrawan dari Berbagai Daerah
Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, WSFest 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan dengan narasumber dari berbagai daerah.
Sejumlah nama yang dijadwalkan terlibat antara lain Saut Situmorang dari Yogyakarta, Kusni Sulang dari Palangka Raya, Zulkifli Songyanan dari Tasikmalaya, Arsyad Indradi dari Banjarbaru, Ariful Amir dari Jakarta, Endry Sulistyo dari Samarinda, Arif Kurniawan dari Bengkulu, Musa Bastara dari Banjar dan Sandi Firly dari Banjarbaru.
Namun, kondisi kabut asap di Banjarbaru membuat sebagian narasumber tidak dapat hadir secara langsung.
“Kita sangat ingin menghadirkan seluruh narasumber ke Banjarbaru. Namun mengingat kondisi saat ini Banjarbaru masih kurang kondusif akibat kabut asap dan hal lainnya, sehingga sebagian narasum tidak bisa didatangkan, dan sebagian acaranya digelar secara daring,” papar Hudan.
Rangkaian WSFest 2026 dikemas dalam sejumlah agenda yang disebut Oru atau Obrolan Seru. Di antaranya Oru Menolak Padam, Oru Datang Terang, Oru Film, Oru Tata Kelola Festival, Oru Penulis Berdampak dan Oru Ekobudaya.
Festival ini juga diisi roadshow ke sejumlah sekolah dan pesantren di Banjarbaru. Sementara puncak kegiatan yang diberi nama Malam Imaji akan digelar di Mingguraya, Banjarbaru.
Secara keseluruhan, rangkaian WSFest 2026 ditargetkan melibatkan sekitar 1.200 audiens.
“Kami berharap, WSFest akan memberikan dampak terhadap ekosistem sastra di Banjarbaru khususnya, Kalimantan dan Indonesia secara umum,” ucap Hudan.
WSFest 2026 akan berlangsung di sembilan lokus, yakni SMPN 2 Banjarbaru, Ponpes Al Falah Puteri, SMK Telkom Banjarbaru, SMPN 9 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru, Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, Taman Makam Bahagia, Mingguraya dan Basecamp Inkubator Wabul Sawi Festival.
Selain diskusi dan roadshow ke lima sekolah, WSFest juga menghadirkan Edutown Selingkung Kota. Program tersebut menjadi ruang untuk mengajak masyarakat mengenal Banjarbaru dari sisi sejarah dan melihat kembali jejak para tokoh yang berperan dalam perjalanan kota.
Tahun ini, Edutown Selingkung Kota memilih Taman Makam Bahagia sebagai lokasi kegiatan. Tempat tersebut menjadi ruang untuk mengenang para tokoh pendiri dan budayawan Kalimantan.
Luncurkan Dua Buku
Hal lain yang menjadi bagian penting WSFest 2026 adalah peluncuran dua buku hasil rangkaian kegiatan sebelumnya.
Buku pertama merupakan kumpulan cerpen karya peserta MTN Lab. Buku tersebut lahir dari kegiatan residensi sejumlah penulis yang diselenggarakan WSFest pada Mei 2026 di Rantau Bakula, Kabupaten Banjar.
Buku kedua berjudul “Lapah”, yang merupakan kumpulan puisi peserta MTN Lab dan Residensi yang diselenggarakan WSFest bersama Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan pada Agustus 2026.
“Jadi, festival yang akan diselenggarakan di September ini merupakan puncaknya. Selain menghadirkan karya-karya dari hasil kegiatan sebelumnya, sekaligus peluncuran dan presentasi yang akan disampaikan oleh para penulis terpilih,” jelas Hudan.
Sejumlah agenda WSFest 2026 dapat diikuti masyarakat secara gratis, termasuk diskusi yang digelar di Basecamp Wabul Sawi di Jalan Guntung Jingah, Banjarbaru, serta Malam Imaji sebagai acara penutupan di Mingguraya pada Jumat (25/9/2026) malam.
Hudan mengajak masyarakat untuk ikut hadir dalam rangkaian festival sekaligus menjadikan sastra sebagai ruang untuk membangun kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Ayo datang, meriahkan, dan jadilah bagian dari perayaan sastra serta menunjukkan kepedulian kita terhadap kondisi saat ini yang tidak sedang baik-baik saja,” tandas Hudan Nur.





