INTERAKSI.CO, Banjarmasin – Beberapa tahun terakhir, cara orang Indonesia menikmati musik berubah cukup drastis. Jika dulu lagu populer lahir dari radio, televisi, atau tangga lagu resmi, sekarang potongan audio 15 detik di TikTok justru bisa menentukan selera satu negara.

Fenomena ini membuat lagu remix, DJ TikTok, hingga versi “jedag-jedug” semakin mendominasi telinga publik. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih mengenal versi remix dibanding lagu aslinya.

Musik kini tidak lagi hanya didengar, tetapi juga dipakai sebagai alat untuk masuk algoritma. Banyak kreator sengaja menggunakan lagu tertentu karena dianggap lebih mudah viral.

Akibatnya, pola konsumsi musik berubah. Orang mendengar lagu bukan karena menyukai keseluruhan karya, melainkan karena bagian tertentu terasa “asik” untuk video pendek.

Tidak heran jika banyak lagu sekarang dibuat dengan formula yang langsung “menggigit” di beberapa detik pertama. Beat dipercepat, bass diperkuat, lalu ditambah efek transisi yang cocok untuk konten TikTok.

Baca juga: Kenji Ōba, Pemeran Gavan Legendaris, Meninggal Dunia di Usia 72 Tahun

Fenomena ini juga melahirkan budaya baru di internet Indonesia: lagu remix lokal. Mulai dari remix DJ Timur, sound horeg, hingga lagu galau yang diubah menjadi versi dugem, semuanya menemukan pasar besar di media sosial.

Menariknya, tren tersebut bukan hanya hidup di dunia maya. Musik remix kini masuk ke tongkrongan, angkringan, hajatan, hingga kafe. Bahkan lagu yang awalnya biasa saja bisa kembali viral setelah di-remix oleh kreator tertentu.

Di sisi lain, banyak musisi mulai menghadapi dilema baru. Mereka tidak hanya dituntut membuat lagu bagus, tetapi juga membuat potongan lagu yang cocok menjadi sound TikTok. Akibatnya, beberapa karya terasa seperti dibuat untuk algoritma, bukan untuk didengarkan secara utuh.

Fenomena ini juga mengubah cara generasi muda mengenal musik. Banyak orang sekarang hafal chorus lagu viral, tetapi tidak tahu judul, penyanyi, bahkan makna lagunya. Musik berubah menjadi potongan momen cepat yang lewat di beranda.

Namun, di balik semua itu, TikTok juga membuka ruang besar bagi musik lokal. Lagu daerah, remix koplo, hingga musik elektronik dari kreator kecil bisa menembus jutaan pendengar tanpa perlu label besar.

Selera musik Indonesia kini semakin cair. Batas antara musik mainstream, remix jalanan, dan lagu viral internet mulai kabur. Yang paling penting bukan lagi siapa penyanyinya, tetapi apakah lagunya cukup kuat untuk membuat orang berhenti scrolling.

Mungkin inilah era baru musik digital: ketika sebuah lagu tidak lagi bersaing di radio, melainkan bertarung di algoritma.

Author